Saham BBCA Turun Tajam, Saatnya Beli?

Saham BBCA Turun Tajam, Saatnya Beli?

Retno Ayuningrum - detikFinance
Senin, 27 Apr 2026 08:40 WIB
Logo Bank Central Asia (BCA) di Menara BCA, Bundaran HI, Jakarta.
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada penutupan pekan lalu melemah 5,84% ke level Rp 6.050. Angka ini merupakan titik terendah sejak 2021 atau masa pandemi Covid-19.

Dalam satu hari, net foreign sell (NFS) di saham ini tercatat mencapai Rp 2,1 triliun. Meski begitu, para analis menilai kondisi internal BBCA sebenarnya masih sehat. Penurunan ini disebut murni karena faktor eksternal dan kondisi makro ekonomi yang lagi tidak menentu.

Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menilai tekanan tersebut tidak hanya terjadi pada BBCA, melainkan merata di seluruh bank besar. Misalnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,81% ke level Rp 4.500 dengan jual bersih investor asing mencapai Rp 655 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga turun 2,85% menjadi Rp 3.070 dengan NFS Rp 447,3 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jonathan berpendapat investor asing sedang melakukan penyesuaian portofolio terhadap risiko makro Indonesia di tengah ketidakpastian global. Saham sektor perbankan, terutama big banks, banyak dilepas karena diposisikan sebagai etalase perekonomian nasional.

ADVERTISEMENT

"Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA," ujar Jonathan dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Menurut dia, salah satu pemicu utama berasal dari konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang belum menunjukkan tanda mereda. Ketidakpastian ini mendorong harga energi tetap tinggi dan menekan ekspektasi pertumbuhan global. Di saat bersamaan, nilai tukar terus melemah.

"Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat," tambahnya.

Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta review MSCI terhadap pasar saham domestik. Kombinasi faktor ini membuat aliran dana asing cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

"Kalau kita lihat lebih dalam, fundamental BBCA saat ini masih solid. BBCA bahkan berupaya menjaga daya tarik bagi investor melalui kebijakan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun," terangnya.

Pada kuartal I-2026, BBCA mencatat laba bersih Rp 14,7 triliun atau tumbuh 4% secara tahunan. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas terbaru, pencapaian laba ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan konsensus tahunan.

"Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM," kata Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, dalam risetnya.

Pertumbuhan kredit tercatat sekitar 6% secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi penopang utama. Sementara itu, segmen konsumer masih menjadi tantangan, terutama pada pembiayaan kendaraan. Analis juga mencermati indikator risiko secara kuartalan, khususnya pada segmen di luar korporasi. Namun secara tahunan, kualitas aset masih menunjukkan perbaikan, mencerminkan ketahanan portofolio BBCA di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

"Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga," tulis riset tersebut.

BBCA juga mempertahankan panduan kinerja 2026, termasuk target pertumbuhan kredit 8-10% dan NIM di kisaran 5,4-5,6%. BRIDS mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 10.900, yang mencerminkan potensi kenaikan signifikan dari harga terakhir.

Menurut BRIDS, valuasi BBCA saat ini sudah berada di bawah rata-rata historis dan mendekati kisaran deviasi bawah dalam beberapa tahun terakhir. "Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas," tulis riset BRIDS.

Saksikan Live DetikPagi:

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads