Bos BI Rapat 1,5 Jam Bahas IFC Bali, Ditanya Dolar AS Rp 17.400 Cuma Senyum

Bos BI Rapat 1,5 Jam Bahas IFC Bali, Ditanya Dolar AS Rp 17.400 Cuma Senyum

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 05 Mei 2026 13:14 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo / Foto: Dok. YouTube Bank Indonesia
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam dari pukul 10.30 hingga 12.00 WIB di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, membahas pembangunan Indonesia Financial Center (IFC) di Bali.

Usai pertemuan, Perry meninggalkan kantor Kemenko Perekonomian sekitar pukul 12.06 WIB. Dalam kesempatan ini, dirinya dihujani pertanyaan terkait pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah menyentuh Rp 17.400/dolar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Perry hanya tersenyum dan terus melangkah menuju mobil dinasnya yang sudah menunggu di depan lobby kantor Kemenko Perekonomian. Sesekali ia hanya sedikit melambaikan tangan menunjukkan keengganannya untuk memberikan tanggapan.

Terhadap setiap pertanyaan yang dilontarkan terkait pelemahan mata uang Garuda ini, ia hanya mengucapkan "terima kasih" dan terus mengulangi jawaban itu sampai ke dalam mobil dan meninggalkan kawasan.

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap rupiah pagi ini. Mata uang Paman Sam menembus level Rp 17.400. Terkait hal ini BI juga sudah buka suara soal pelemahan mata uang Indonesia terhadap dolar Paman Sam.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea menyampaikan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang Paman Sam yang terjadi belakangan ini dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara lainnya di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang masih terjadi.

Menurutnya sebagian mata uang juga melemah, misalnya mata uang Philippine Peso turun 6,58%, Thailand Baht loyo 5,04%, India Rupee berkurang 4,32%, demikian pula dengan Chile Peso melemah 4,24%, Indonesia Rupiah turun 3,65%, dan Korea Won melemah 2,29%.

"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (5/5/2026).

Di tengah kondisi tersebut, Erwin menegaskan BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. BI akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.

"Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global," katanya.

Lihat juga Video: Rupiah Babak Belur ke Level Rp 17.300 per Dolar AS

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads