Rupiah Lagi Undervalued, Bos BI Ungkap Biang Keroknya

Rupiah Lagi Undervalued, Bos BI Ungkap Biang Keroknya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 05 Mei 2026 21:32 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per d
Ilustrasi.Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui Rupiah mengalami undervalued alias terlalu lemah dibandingkan nilai fundamental ekonomi sebenarnya.

Kondisi ini diungkapkan Perry usai melakukan rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta Pusat dengan Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK).

Menurutnya ada anomali yang menyebabkan Rupiah jadi sangat lemah. Menurutnya fundamental ekonomi Indonesia kuat, seharusnya dengan pondasi yang kuat nilai Rupiah juga bisa menguat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nilai tukar sekarang itu undervalued. Undervalued dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Tadi disampaikan oleh Pak Menko bahwa fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan sangat tinggi 5,11%, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya Rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," jelas Perry di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Anomali yang dimaksud Perry ada dua yaitu ada faktor global dan faktor-faktor musiman. Faktor global yang dimaksud Perry ada beberapa hal, mulai dari harga minyak yang tinggi, suku bunga bank sentral AS yang tinggi, dan juga bunga surat utang atau yield US Treasury yang naik.

ADVERTISEMENT

"Demikian juga Dolar yang menguat. Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," beber Perry.

Kemudian anomali yang berikutnya adalah faktor musiman. Menurutnya di bulan-bulan April, Mei, dan Juni permintaan terhadap Dolar tinggi hal ini mendorong nilai tukar Rupiah jadi melemah.

"Nah, memang dalam secara musiman April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap Dolarnya tinggi. Ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jemaah haji," jelas Perry.

"Tapi Rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat," sambungnya.

(hal/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads