OJK Bicara Risiko Pasar Modal RI Turun Kasta

OJK Bicara Risiko Pasar Modal RI Turun Kasta

Andi Hidayat - detikFinance
Senin, 11 Mei 2026 15:39 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi/Foto: Andi Hidayat/detikcom
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bicara soal peluang turunnya status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Penetapan tersebut akan diputuskan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Juni mendatang.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, berharap MSCI tidak akan menurunkan status pasar modal RI. Pasalnya self regulatory organization (SRO) telah menjalankan sejumlah perbaikan terkait transparansi pasar modal.

"Moga-moga enggak ya, karena kalau kita lihat, misalnya kita lihat secara granularitas data, keterbukaan informasi, kita mungkin salah satu yang terbaik lah untuk hal keterbukaan integritas yang kita sampaikan. Jadi, moga-moga ini juga menjadi konsideran, supaya Indonesia tetap di Emerging Market," ungkapnya kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, wanita yang akrab di sapa Kiki ini tak menampik dampak pengumuman MSCI terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mengingat lembaga penyedia indeks global itu juga akan mengumumkan hasil rebalancing saham RI pada Selasa (12/5).

ADVERTISEMENT

Kiki meminta investor untuk tidak panik merespons pengumuman MSCI. Pasalnya, penyesuaian yang dilakukan MSCI hanya bersifat sementara seiring berjalannya reformasi pasar modal di Indonesia.

"Mungkin bisa menjadi short term pain, tapi insyaallah menjadi long term gain. Jadi, jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain. Nggak, ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan. Kita harus melakukan perbaikan secara fundamental," imbuhnya.

Tak hanya otoritas, pemerintah juga tengah menunggu pengumuman status pasar modal Indonesia. Staf Ahli Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Evita Manthovani, menilai masih ada waktu untuk meyakinkan lembaga global terkait reformasi pasar modal RI.

"Yang perlu kita cermati adalah keputusan final akan ditetapkan dalam market accessibility review pada Juni 2026 ini. Artinya, kita masih memiliki ruang sekaligus tanggung jawab untuk meyakinkan pasar global bahwa arah reformasi kita konsisten, terukur dan berkelanjutan," jelasnya dalam acara Investor Relations Forum di Main Hall BEI.

Ia menegaskan, pasar modal memiliki peran besar dalam mendukung pembiayaan. Setidaknya pada tahun 2029, kebutuhan pembiayaan Indonesia diperkirakan mencapai Rp 9.200 triliun.

"Ke depan kebutuhan pembiayaan Indonesia termasuk perbankan, pasar keuangan akan meningkat secara signifikan dari Rp 7.400 triliun menjadi sekitar Rp 9.200 triliun pada tahun 2029, di mana sebagian besar berasal dari sektor swasta dan masyarakat. Untuk itu peningkatan partisipasi investor domestik menjadi kunci," pungkasnya.

Sebagai informasi, MSCI akan mengumumkan hasil rebalancing indeks untuk saham RI pada Selasa (12/5). Kemudian untuk market accessibility review yang menetapkan status pasar modal RI, rencananya diumumkan pada Juni mendatang.

(ahi/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads