Pergerakan Rupiah Aneh
Senin, 05 Nov 2007 10:15 WIB
Jakarta - Pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai anomali. Pada saat mata uang lain menguat terhadap dolar, rupiah malah tenang-tenang saja atau stabil.Hal tersebut disampaikan pengamat pasar uang Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance, Senin (6/11/2007)."Ini aneh, yang lain menguat terhadap dolar, contohnya euro sudah 1,44, poundsterling mungkin 2,1. Dolar Singapura, Thai Bath, kecenderungannya kan menguat," ujarnya.Penguatan mata uang lain terhadap dolar terjadi karena daya tarik suku bunga di AS sudah hilang. Negara yang mengalami defisit ganda seperti AS umumnya mata uangnya akan melemah. Apalagi ditambah dengan kenaikan harga minyak yang menembus US$ 96 per barel, akan semakin melemahkan dolar, karena negara itu merupakan konsumen minyak paling boros."Tapi tetap hal itu tidak menyebabkan rupaih menguat. Ini anomali, yang lain menguat rupiah tidak," ujarnya.Padahal, di dalam negeri terjadi kejadian yang luar biasa di pasar finansial dengan indeks yang menguat terus.Seharusnya ini bisa menyebabkan rupiah menguat karena ada persediaan dolar di pasar yang dibawa oleh investor. Mereka membawa dolar AS yang dikonversi ke rupiah untuk membeli saham Indonesia.Farial melihat anomali rupiah terjadi karena persepsi pasar sudah terlanjur dibuai oleh pernyataan baik itu Gubernur BI maupun wakil-wakilnya yang menyatakan BI cukup nyaman dengan rupiah pada level Rp 9.000 sampai Rp 9.500 per dolar AS.Seharusnya dengan kenaikan harga minyak dolar AS bisa melemah hingga Rp 8.500. Namun BI menahan penguatan rupiah ini."Kenapa ditahan? Kalau tidak ditahan bisa mencapai Rp 8.700-8.800 pada bulan Juli 2007 namun penguatan tidak bertahan lama," ujarnya.BI menurutnya juga tengah sibuk mengumpulkan dolar untuk membayar Sertifikat Bank Indonesia.
(ddn/qom)











































