Dolar AS Diprediksi Sulit Balik ke Bawah Rp 17.000

Dolar AS Diprediksi Sulit Balik ke Bawah Rp 17.000

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 15 Mei 2026 12:15 WIB
Ilustrasi kurs dolar rupiah
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) masih terus menguat terhadap Rupiah. Kini, Rupiah masih ditekan di kisaran Rp 17.500-an, berdasarkan data Bloomberg pagi ini Dolar AS menekan Rupiah di level yang cukup tinggi Rp 17.575.

Sejauh ini pelemahan Rupiah telah terjadi jauh dari target nilai tukar yang ditetapkan pada asumsi makro APBN. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS paling tinggi ditetapkan di APBN 2026 sebesar Rp 16.500, namun sekarang sudah mencapai Rp 17.500 lebih.

Menurut Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad, Rupiah akan sangat sulit turun di bawah level Rp 17.000 saat ini. Dia menilai nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah di kisaran Rp 17.000-an telah menjadi level keseimbangan baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka kesimbangan baru begitu ya. Ada angka kesimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid kepada detikcom dalam sesi detikSore, ditulis Jumat (15/5/2026).

Dia mengatakan sejauh ini pengalaman Bank Indonesia melakukan operasi moneter atau upaya-upaya stabilisasi rupiah, mengurangi angka Rp 500 pada nilai tukar membutuhkan waktu lebih panjang dan relatif lebih sulit. Menurutnya, penguatan Rupiah setidaknya akan berada di level Rp 17.000-17.200 saja.

ADVERTISEMENT

"Tapi saya yakin ya masih bisa mendekati angka Rp17.000 itu memungkinkan apakah Rp17.100 atau Rp17.200 begitu. Tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah yang dilakukan Bank Sentral itu harus benar-benar efektif," papar Tauhid.

Tauhid menilai seharusnya memang pemerintah mulai mengubah asumsi makro dalam APBN. Sebab target-target yang ditetapkan sudah berada jauh dari kenyataan, misalnya saja nilai tukar yang mencapai Rp 17.500 dari target Rp 16.500.

Bila mengubah APBN tak mau dilakukan, Tauhid meminta setidaknya ada penyampaian kerangka fiskal yang jelas dan transparan hingga akhir tahun untuk menjaga kepercayaan investor.

"Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku bisnis dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih yakin ya," beber Tauhid.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong juga menyatakan saat ini nampaknya sulit untuk Rupiah bisa menguat dan mencapai target pada APBN. Lukman melihat faktor eksternal yaitu gonjang-ganjing situasi geopolitik dunia menjadi alasan utama Rupiah melemah.

Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia yang terjadi imbas gangguan pasok setelah AS dan Irsn berperang.

"Semua bisa terjadi (penguatan signifikan Rupiah terhadap Dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula," beber Lukman kepada detikcom.

Di dalam negeri, Lukman memaparkan beberapa sentimen negatif membuat investor ragu dan mengeluarkan modalnya le luar negeri mencari tempat yang aman. Misalnya saja sentimen pengelolaan APBN yang terlalu ekstrem hingga membuat defisit mendekati level 3%.

Kemudian polemik yang terjadi di pasar modal juga mengganggu kepercayaan investor dan membawa kabur modalnya. Hal ini memicu pelemahan nilai tukar Rupiah juga.

"Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu menaikkan suku bunga," tegas Lukman.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan dalam jangka pendek, Bank Indonesia harus tetap aktif menjaga pasar valas supaya pelemahannya tidak terlalu tajam dan tidak memicu kepanikan. Namun untuk menguatkan Rupiah, bahkan untuk kembali seperti target di APBN perlu hal yang jauh lebih besar.

Hal itu adalah menjaga kepercayaan pasar. Para anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) harus satu suara dan melakukan kebijakan dengan arah yang sama dan komunikasi yang baik.

"Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar," tegas Rendy kepada detikcom.

Dia juga mengatakan struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing. Jadi setiap ada gejolak global, rupiah langsung ikut terpukul. Indonesia harus perlahan mengubah struktur ekonominya dengan memperkuat industri dalam negeri untuk memproduksi komoditas sehari-hari dan juga produk ekspor.

"Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Rendy.

Selain itu, kepastian kebijakan juga penting sekali untuk dihadirkan pemerintah. Investor sebenarnya bisa menerima aturan yang ketat, asal jelas dan konsisten. Yang paling membuat mereka menahan diri biasanya bukan aturannya, tetapi perubahan yang terlalu mendadak dan sulit diprediksi.

(hal/eds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads