Rupiah Diramal Sulit Tekuk Dolar AS Balik ke Bawah Rp 17.000

Rupiah Diramal Sulit Tekuk Dolar AS Balik ke Bawah Rp 17.000

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Sabtu, 16 Mei 2026 05:55 WIB
Ilustrasi kurs dolar rupiah
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) semakin menggencet rupiah. Per Jumat, nilai tukar dolar AS sudah menyentuh level tertingginya pada kisaran Rp 17.600-an, dan pada sore hari berada di Rp 17.596.

Sejauh ini pelemahan rupiah terjadi menjauhi target nilai tukar yang ditetapkan pada asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Nilai tukar dolar AS ditetapkan paling tinggi di APBN 2026 sebesar Rp 16.500.

Menurut Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad, dolar AS akan sangat sulit turun di bawah level Rp 17.000. Dia menilai nilai tukar dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 17.000-an telah menjadi level keseimbangan baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka kesimbangan baru begitu ya. Ada angka kesimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid kepada detikcom dalam sesi detikSore, ditulis Jumat (15/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan sejauh ini pengalaman Bank Indonesia (BI) melakukan operasi moneter atau upaya-upaya stabilisasi rupiah, mengurangi angka Rp 500 pada nilai tukar dolar AS membutuhkan waktu lebih panjang dan relatif lebih sulit. Menurutnya, penguatan nilai tukar rupiah setidaknya akan berada di level Rp 17.000-17.200 per dolar AS.

"Tapi saya yakin ya masih bisa mendekati angka Rp 17.000 itu memungkinkan apakah Rp 17.100 atau Rp 17.200 begitu, tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah yang dilakukan bank sentral itu harus benar-benar efektif," papar Tauhid.

Tauhid menilai seharusnya memang pemerintah mulai mengubah asumsi makro dalam APBN 2026. Sebab target-target yang ditetapkan sudah berada jauh dari kenyataan, misalnya saja nilai tukar yang mencapai Rp 17.500 dari target Rp 16.500.

Bila mengubah APBN tak mau dilakukan, Tauhid meminta setidaknya ada penyampaian kerangka fiskal yang jelas dan transparan hingga akhir tahun untuk menjaga kepercayaan investor.

"Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku bisnis dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih yakin ya," beber Tauhid.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong juga menyatakan saat ini nampaknya sulit untuk rupiah bisa menguat dan mencapai target APBN. Lukman melihat faktor eksternal yaitu gonjang-ganjing situasi geopolitik dunia menjadi alasan utama rupiah melemah, salah satunya kenaikan harga minyak dunia yang terjadi imbas gangguan pasok setelah AS dan Irsn berperang.

"Semua bisa terjadi (penguatan signifikan rupiah terhadap dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula," beber Lukman kepada detikcom.

Di dalam negeri, Lukman memaparkan beberapa sentimen negatif membuat investor ragu dan mengeluarkan modalnya le luar negeri mencari tempat yang aman, misalnya sentimen pengelolaan APBN yang terlalu ekstrem hingga membuat defisit mendekati level 3%. Kemudian polemik yang terjadi di pasar modal juga mengganggu kepercayaan investor dan membawa kabur modalnya yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah juga.

"Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu menaikkan suku bunga," tegas Lukman.

Pemerintah Bisa Apa?

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita mengatakan banyak hal yang mesti dilakukan pemerintah untuk memberikan dorongan agar rupiah menguat terhadap dolar AS.

Pertama, menjaga kredibilitas fiskal dan APBN agar pasar yakin defisit tetap terkendali. Kepercayaan pasar, menurutnya harus dipulihkan kembali agar investor yang tadinya menarik modalnya, kembali menyuntikkan dananya lagi ke Indonesia dan dapat menyeimbangkan nilai tukar.

"Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membuat rupiah masuk angin lebih cepat dari yang dibayangkan," ujar Ronny kepada detikcom.

Kedua, pemerintah harus memperkuat ekspor dan memperbesar devisa hasil ekspor suplai Dolar AS di dalam negeri lebih kuat. Kebijakan baru DHE menurutnya harus dioptimalkan untuk menjaga nilai tukar.

Ketiga, dalam jangka waktu panjang pemerintah mesti mempercepat hilirisasi dan substitusi impor supaya ketergantungan terhadap barang impor bisa ditekan.

Kemudian, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan dalam jangka pendek, BI harus tetap aktif menjaga pasar valas supaya pelemahannya tidak terlalu tajam dan tidak memicu kepanikan.

Untuk memperkuat nilai tukar rupiah, bahkan untuk kembali seperti target di APBN perlu hal yang jauh lebih besar, yaitu menjaga kepercayaan pasar. Para anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) harus satu suara dan melakukan kebijakan dengan arah yang sama dan komunikasi yang baik.

"Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar," tegas Rendy kepada detikcom.

Dia juga mengatakan struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing. Jadi setiap ada gejolak global, rupiah langsung ikut terpukul. Indonesia harus perlahan mengubah struktur ekonominya dengan memperkuat industri dalam negeri untuk memproduksi komoditas sehari-hari dan juga produk ekspor.

"Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Rendy.

Selain itu, kepastian kebijakan juga penting sekali untuk dihadirkan pemerintah. Investor sebenarnya bisa menerima aturan yang ketat, asal jelas dan konsisten. Yang paling membuat mereka menahan diri biasanya bukan aturannya, tetapi perubahan yang terlalu mendadak dan sulit diprediksi.

Halaman 2 dari 2
(hal/eds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads