Terburuk Sepanjang Sejarah, Rupiah Sudah Jatuh 12%

Terburuk Sepanjang Sejarah, Rupiah Sudah Jatuh 12%

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 18 Mei 2026 11:57 WIB
Petugas menata mata uang Rupiah dan Dolar AS di penukaran valas di Jakarta, Jumat (26/9/2025). Dikutip dari data Bloomberg, Jumat (26/9), dolar AS dibuka di Rp 16.745. Kemudian sekitar pukul 09.10, dolar AS naik ke posisi Rp 16.789. Dolar AS naik 40,
Ilustrasi / Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Nilai tukar rupiah semakin terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata Uang Garuda melanjutkan tren pelemahan dan semakin jauh dari level psikologisnya.

Dilansir dari Reuters, Senin (18/5/2026), pukul 10.50 WIB rupiah berada di level Rp 17.645 per dolar AS atau melemah 1,17% dibandingkan hari sebelumnya. Level ini sekaligus menjadi all time low atau level terlemah rupiah secara intraday di pasar spot.

Secara year to date sejak awal 2026, rupiah telah melemah 5,99% terhadap dolar AS. Sejak era Presiden Prabowo Subianto memulai kepemimpinan pada Oktober 2024, rupiah telah melemah 12% dari kisaran Rp 15.400-an saat itu menjadi Rp 17.600-an saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tekanan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global akibat lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

"Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan, indeks dolar yang juga mengalami penguatan, ini berdampak terhadap kebutuhan dolar yang cukup tinggi dari Indonesia karena Indonesia impor minyak mentah 1,5 juta barel per hari," jelas Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi dalam pernyataan resmi.

ADVERTISEMENT

Selain itu, pernyataan Prabowo yang dianggap 'nyeleneh' dinilai turut memperdalam pelemahan rupiah. Sebagaimana diketahui, orang nomor satu di Indonesia itu pada Sabtu (16/5) menanggapi santai pelemahan rupiah terhadap dolar AS karena menganggap tidak berdampak ke masyarakat desa.

"Ini membuat satu buah simalakama. Pernyataan Presiden Prabowo ini dijadikan alasan oleh para investor di pasar untuk melakukan pembelian terhadap dolar sehingga rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan," tutur Ibrahim.

Ibrahim menganggap Prabowo dalam kondisi bingung karena rupiah terus mengalami pelemahan signifikan. Dalam hal ini seharusnya pemerintah memberikan masukan tentang bagaimana harus menyikapinya.

"Seharusnya pemerintah memberikan masukan tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping dari bahan bakar fosil, kemudian bagaimana cara menangani krisis agar rupiah kembali mengalami penguatan. Ini yang seharusnya dilakukan, tetapi pada kenyataannya Presiden Prabowo terus memberikan olok-olok," ucap Ibrahim.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads