Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan, bahkan sempat mencetak rekor terendah sepanjang sejarah di level Rp 17.600. Namun, pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada kurs dan pasar keuangan, tetapi juga merembet ke harga sejumlah komoditas pangan di pasar tradisional.
Sebagai contoh, para pedagang daging sapi segar di Pasar Senen kini menghadapi tantangan kenaikan harga yang dipengaruhi nilai tukar dolar. Pasalnya, hingga saat ini pasokan daging sapi lokal masih bergantung pada impor sapi potong.
Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Senen, Fahmi, mengatakan sebagian besar sapi potong didatangkan dari Australia alias impor. Namun, karena sudah dibesarkan atau dipelihara selama satu hingga dua bulan di Indonesia, daging yang dihasilkan tetap disebut sebagai daging "lokal".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sapinya mau lokal atau impor sama saja. Soalnya sapi potongnya kebanyakan dari Australia, digedein satu dua bulan di sini, cuma kita sudah sebutnya lokal. Daging baru lah, potong baru," ujarnya saat ditemui detikcom, Senin (18/5/2026).
Ia mengatakan, imbas kenaikan nilai dolar terhadap rupiah membuat harga daging sapi kerap mengalami perubahan signifikan secara mendadak. Padahal, pedagang di pasar hanya menyesuaikan harga berdasarkan biaya pembelian sapi dari pemasok.
"Jadi harga daging naik karena dari impornya naik kan, dolar naik katanya. Jadi mungkin pengaruhnya dari sana. Kalau dolar naik, harga ikut naik, soalnya beli sapinya juga sudah naik. Katanya sih begitu, saya kurang tahu detailnya, tapi dari rumah potong bilang begitu, dari impornya memang naik gara-gara itu," jelas Fahmi.
Akibatnya, harga daging sapi di pasar saat ini masih cukup tinggi, yakni di kisaran Rp 150 ribu per kilogram, dari harga normal sekitar Rp 130 ribu per kilogram. Begitu juga dengan daging impor beku yang biasanya berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 120.000-Rp 130.000 per kilogram.
"Kalau daging lokal rata-rata Rp 150 ribu per kilogram, tapi bisa Rp 145 ribu kalau lagi turun, sampai Rp 160 ribu kalau naik. Impor beku sekarang Rp 120 ribu, bisa Rp 130 ribu, tergantung jenis dagingnya juga," paparnya.
Tak hanya daging, kenaikan harga di pasar juga terjadi pada komoditas tahu. Sebab, kedelai sebagai bahan baku utama produk ini berasal dari impor, sehingga perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar turut berpengaruh.
"Harga kedelainya kan naik. Kalau tahu pakai kedelai impor. Jadi bisa jadi karena rupiah sama ongkos kirim kedelainya lagi naik. Mungkin rentetannya begitu, ongkos produksi jadi besar, harga di pasar ikut naik," ujar Davi.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai impor sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Namun saat itu, kenaikan harga masih ditahan oleh produsen sehingga harga jual tahu di tingkat pedagang dan konsumen belum berubah.
"Harga tahu sudah mulai naik sejak seminggu lalu. Tadinya dari pabrik belum dinaikkan, sekarang mungkin sudah mulai nggak kuat juga mereka. Jadi naik Rp 100-Rp 200 per potong. Di sini jual potongan sedang Rp 4.000, yang besar Rp 5.000. Itu pun harganya belum saya naikkan, kita tahan dulu, kurangi untung sedikit," terangnya.
Di sisi lain, Davi yang sehari-hari juga berjualan bawang mulai waswas terhadap dampak kenaikan dolar terhadap harga bawang putih ke depan. Pasalnya, komoditas tersebut sepenuhnya masih bergantung pada impor.
"Kalau bawang merah itu produksi lokal, tapi bawang putih pasti impor. Biasanya dari China, kebanyakan dari sana. Sekarang sih harga masih stabil, cuma nggak tahu ke depan bakal bagaimana," ujarnya.
Saksikan Live DetikSore :











































