Efek Rebalancing MSCI Awet Bikin IHSG Anjlok

Efek Rebalancing MSCI Awet Bikin IHSG Anjlok

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 19 Mei 2026 07:45 WIB
Dikutip dari RTI, Senin (18/5/2026), IHSG pada penutupan turun sangat dalam hingga 124,07 poin ke level 6.599,24 atau melemah 1,85%. IHSG dibuka di level 6.628,97 dengan level tertinggi 6.631,28 dan terendah 6.398,78.
Ilustrasi IHSG.Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah sepanjang perdagangan Senin (18/5/2026). Pelemahan indeks saham ini disebut masih dipengaruhi oleh pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI dan rencana FTSE Russell mengeluarkan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) pada Rabu (13/5).

Meski begitu, pengumuman dari dua penyedia indeks saham global itu tidak menjadi sentimen utama. Pasalnya pergerakan IHSG sejalan dengan pelemahan yang terjadi pada sejumlah bursa utama di Asia.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG melemah hingga 1,85% ke level 6.599,24. Indeks saham Garuda bergerak melemah sejalan dengan bursa utama Asia, Nikkei 225 Index (N225) misalnya, melemah 0,97% ke level 60.815,89.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian bursa saham di China, Hang Seng Index (HSI) melemah 1,11% ke level 25.675,17 dan Shanghai Composite Index (SSEC) terkoreksi sebesar 0,09% ke level 4.131,52. Sementara bursa negara tetangga, Straits Times Index (STI), menguat 0,15% ke level 4.996,75.

ADVERTISEMENT

"Tidak hanya MSCI dan FTSE saja yang mempengaruhi IHSG hari ini, namun dari sisi pasar global dan regional Asia juga turut menekan pergerakan indeks," ungkap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada detikcom Senin (18/5/2026).

Di sisi lain, IHSG juga terdampak konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali meningkatkan harga minyak mentah dunia. Herditya mengatakan, saat ini harga minyak mentah berada di atas US$ 100 per barel.

Sementara dari sisi domestik, IHSG juga disebut melemah imbas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menyentuh level Rp 17.676 per dolar AS. Akumulasi sentimen tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran investor di pasar modal domestik.

"Hal ini juga kembali meningkatkan kekhawatiran investor akan tekanan inflasi ke depannya serta perlambatan ekonomi global," pungkasnya.

Akumulasi Tekanan IHSG

Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, menjelaskan bursa saham Asia mengalami koreksi besar pada perdagangan dua hari tersebut. Tekanan bursa Asia ini kemudian terakumulasi pada IHSG di perdagangan hari ini.

"Kalau kita cermati memang ketidakpastian di pasar kita masih cukup tinggi, tetapi kita juga melihat bahwa hari Kamis dan Jumat pasar kita libur. Nah, di masa kita libur itu, pasar global khususnya pasar Asia, itu juga mengalami koreksi," ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).

Selain karena tekanan melemahnya bursa Asia, terang Jeffrey, IHSG saat ini juga terkoreksi karena sentimen global. Namun menurutnya, koreksi IHSG saat ini masih sejalan dengan pergerakan bursa Asia.

Jeffrey meminta investor untuk tidak panik dalam merespons dinamika global yang ada. Menurutnya, investor perlu memperhitungkan fundamental dan menganalisa dengan cermat sebelum memutuskan langkah investasinya.

"Ditambah dengan sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global, itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini. Jadi, saya rasa masih inline dengan global market, tetapi memang ketidakpastian di pasar kita itu masih cukup tinggi," jelasnya.

Investor Atur Ulang Investasi

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengatakan saat ini investor tengah menyesuaikan kembali portofolionya di pasar modal Indonesia. Langkah ini juga dilakukan menyusul pengumuman MSCI dan FTSE Russell minggu lalu.

"Pasar menilai kebijakan ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio lanjutan dari investor asing maupun passive funds, terutama pada saham-saham dengan free float terbatas dan likuiditas yang kurang ideal," ujar Reydi kepada detikcom.

Ia menjelaskan, investor tidakxakan terburu-buru dalam menetapkan kembali investasinya di pasar modal RI. Menurutnya, penyesuaian portofolio yang dilakukan investor akan berlangsung beberapa minggu ke depan.

"Umumnya proses rebalancing dilakukan bertahap dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung profil risiko, tujuan investasi dan likuiditas di pasar," pungkasnya.

Simak juga Video 'Rp 2 T Per Hari Disuntik ke Pasar Obligasi Biar Rupiah Stabil':

Halaman 3 dari 3
(ahi/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads