Jurus RI Tak Kecanduan Dolar AS yang Sempat Tembus Rp 17.900

Jurus RI Tak Kecanduan Dolar AS yang Sempat Tembus Rp 17.900

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 31 Mei 2026 08:58 WIB
Wamenkeu Juda Agung IPB
Foto: Dok. Kemenkeu Foto/Biro KLI-Cahyo Afif Nugroho
Jakarta -

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memiliki strategi fiskal, terutama dari sisi pembiayaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Strategi tersebut diarahkan melalui penerbitan surat utang dengan mata uang non-USD.

Sebagaimana diketahui, dolar AS sempat menyentuh angka Rp 17.900 pada Jumat (29/5) lalu.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menerangkan, di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang tarif hingga kondisi geopolitik, perekonomian Indonesia terbukti memiliki daya tahan yang cukup kuat untuk meredam rambatan risiko global tersebut. Ketangguhan ini didukung oleh bauran energi nasional yang berjalan baik serta eksekusi strategi fiskal yang pruden.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global," kata dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor, dikutip dari laman Kemenkeu, Minggu (31/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dari sisi fiskal, Juda memaparkan tiga strategi yang secara konsisten diterapkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi.

Pertama, pengendalian belanja negara. Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dan menjaga inflasi dengan mempertahankan harga BBM bersubsidi melalui kenaikan pengeluaran subsidi. Program Makan Bergizi Gratis juga diefisiensikan dengan pengurangan di Hari Sabtu. Di saat yang sama, belanja negara difokuskan pada sektor produktif untuk mendorong pertumbuhan, memacu produksi, dan menciptakan lapangan kerja baru.

"Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan," jelasnya.

Strategi fiskal yang kedua melalui optimalisasi penerimaan negara. Momentum kenaikan harga komoditas dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, optimalisasi penerimaan pajak semakin diperkuat melalui implementasi sistem Coretax.

Sementara itu, strategi fiskal yang ketiga dari sisi pembiayaan. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, strategi pembiayaan diarahkan pada penerbitan surat utang dengan mata uang non-USD dan tingkat bunga kompetitif seperti Samurai bonds berdenominasi mata uang Yen (JPY), Dim Sum bonds dengan mata uang Renminbi, dan Kangoroo bonds dengan mata uang Dolar Australia.

Juda menjelaskan, efektivitas dari penerapan strategi fiskal tersebut tercermin langsung pada performa ekonomi kuartal pertama tahun ini. Perekonomian Indonesia mampu tumbuh kuat di angka 5,61%. Di samping pertumbuhan yang tinggi, laju inflasi tetap berada di level yang terjaga 2,42%, defisit fiskal terkendali 0,64% pada April 2026, dan yield SBN dan spread masih terjaga.

"Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik," tutupnya.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads