Keberadaan pedagang valuta asing (valas) kaki lima masih terlihat di sekitar Kwitang, Jakarta Pusat. Berbeda dengan jasa penukaran uang alias money changer pada umumnya, mereka yang membuka lapak jual-beli valas di pinggir jalan ini menerima uang dengan kondisi lecek, lusuh, hingga rusak seperti sobek sebagian.
Salah satu pedagang valas kaki lima, Rohadi (55), mengatakan perbedaan inilah yang menjadi modal utama mereka masih bertahan melawan money changer resmi sampai sekarang. Tentu saja nilai tukar uang asing rusak yang mereka terima itu berbeda dengan kurs yang digunakan oleh jasa penukaran valas resmi.
Sebagai contoh saat nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 17.500, ia menerima penjualan uang Paman Sam itu dengan harga Rp 16.500/US$. Biasanya untuk mendapatkan keuntungan, ia rata-rata mengambil dolar yang dijual dengan harga Rp 1.000 di bawah harga money changer resmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terakhir tukar itu masih Rp 17.500 (per dolar), itu kita terima Rp 16.500. (Kalau sekarang naik dekat Rp 18.000/dolar AS?) ya paling tetap Rp 16.500, mentok-mentok kalau dia minta naikkan ya jadi Rp 17.000 lah. Pokoknya terima dolar paling nggak Rp 1.000 di bawah," jelas Rohadi saat ditemui detikcom, Rabu (3/6/2026).
Kondisi uang yang masih bisa diterima olehnya adalah jika lembaran yang rusak hanya di bagian pinggir atau robek tapi belum sampai terpisah. Bila robekan cukup besar dan uang dolar lusuh hingga lecek parah, maka nilai tukarnya akan semakin rendah.
"Kalau rusaknya parah ya di bawah harga tadi, yang tergantung gimana kondisinya. (Kalau rusak parah?) tadi Rp 16.500 ya bisa Rp 16.000, bisa Rp 15.000, tergantung kondisi sama dia bisa terima harga berapa," ujarnya.
Dalam hal ini, Rohadi mengatakan kondisi uang asing yang tidak bisa diterima jika sudah rusak hingga menghilangkan satu angka atau huruf dalam nomor seri. Artinya selama nomor seri uang masih bisa dibaca atau dikenali, maka setiap dolar atau mata uang lain masih bisa ia terima.
"Kalau sobek setengah tetap diterima, yang penting masih utuh (sisa sobekan belum terputus atau masih ada), nomor serinya juga sama, jadi di kanan-kiri sama atas-bawah itu sama semua serinya," terangnya.
Sistem Kerja dan Keuntungan Pedagang Valas Kaki Lima
Pria yang sudah menjadi money changer pinggir jalan sejak 1998 itu mengaku bekerja dengan seorang bos. Saat seseorang ingin jual atau beli uang asing seperti contoh dolar AS, ia akan langsung menghubungi sang bos. Jika harga sudah disepakati, maka transaksi jual-beli valas ini akan langsung dilakukan.
"Jadi semua modal beli dari bos. Tapi ya agak lama, karena kan saya harus ke bos dulu buat tukar uangnya kan. (Bos tukar uang rusak ke mana?) nggak tahu kalau itu," ucap Rohadi.
Dalam setiap transaksi, ia mendapat penghasilan dari bagi hasil keuntungan jual-beli valas. Menurutnya keuntungan dibagi rata, meski tentu sosok bos akan mendapat bagian sedikit lebih besar.
"Kalau orang di sini ada dua, tiga sama bos, bagi rata. Tapi yang pegang duit yang lebih gede lah. Misalnya dapatnya Rp 100.000 ini keuntungan, di sini Rp 30.000 sama Rp 30.000, kalau bosnya Rp 40.000. Yang pegang duit yang lebih gede," paparnya.
Meski begitu, saat nilai rupiah tengah melemah seperti belakangan ini, usahanya tidak banyak terpengaruh. Ia mengaku saat ini biasanya hanya menerima transaksi jual-beli valuta asing sebulan dua sampai tiga kali saja.
"Ya itu paling terima cuma berapa lembar saja. Paling sering cuma selembar-selembar saja sih. US$ 10, ada yang US$ 50, US$ 100," katanya.
Rohadi mengaku transaksi paling besar yang ia terima baru-baru ini terjadi sekitar dua bulan lalu. Di mana ada pelanggan yang datang untuk menukar 10 lembar dolar AS dengan nominal US$ 100. Sehingga saat itu total dirinya menukar sekitar US$ 1.000 dengan Rp 16 juta.
"Paling besar tukar 10 lembar, (total nominal) US$ 1.000, kita kasih Rp 16 juta. Belum lama sih, ada masa 2 bulanan ya," tandasnya.











































