Purbaya & Perry Sepakati 2 Jurus Jaga Rupiah Agar Tak Makin Melemah

Purbaya & Perry Sepakati 2 Jurus Jaga Rupiah Agar Tak Makin Melemah

Andi Hidayat - detikFinance
Minggu, 07 Jun 2026 07:30 WIB
DPR menggelar pertemuan dengan pemerintah di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
DPR menggelar pertemuan dengan pemerintah di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026)./Foto: Rumondang/detikcom
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyepakati langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Hal tersebut capai berdasarkan hasil evaluasi antara Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2025).

Pertemuan ini tidak hanya menghasilkan langkah stabilisasi rupiah, tetapi juga mempererat koordinasi otoritas moneter dan fiskal. Koordinasi dianggap penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan, bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat, dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ungkap Perry dalam keterangan persnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

2 Upaya Moneter Jaga Rupiah

Ia menjelaskan, ada dua langkah menjaga rupiah yang disepakati dalam pertemuan tersebut. Pertama, meningkatkan daya tarik imbal hasil untuk menarik arus dana asing yang dianggap mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

ADVERTISEMENT

"Dengan kenaikan bunga luar negeri, memang itu ada outflow, ada saham dan SBN dan juga kecil di SRBI. Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," terangnya.

Langkah kedua, moneter dan fiskal menyepakati untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar keuangan dan perbankan. Langkah ini dapat dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah tetap dikelola BI dengan peningkatan bunga yang dibayarkan moneter ke fiskal.

"Menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI, tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung," jelasnya.

Sinkronisasi Kebijakan Bikin Rupiah Kuat Signifikan

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menilai sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter dapat mendorong rupiah lebih stabil sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi di level makro dan mikro. Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah menyentuh Rp 18.036 hingga penutupan perdagangan, Jumat (5/6) kemarin.

Purbaya mengatakan, pelemahan rupiah sudah mulai terasa pada level mikro ekonomi. Dalam hal ini, ia mengaku menerima keluhan pedagang dan produsen tahu-tempe yang keuntungannya tergerus karena melemahnya nilai tukar rupiah.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, ia menyebut pedagang tahu-tempe terpaksa menaikan harga mengingat adanya kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi ini terjadi lantaran bahan baku tahu-tempe diperoleh dari impor luar negeri.

"Dengan nanti kebijakan lebih bagus itu, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu, tempe, dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik, dan tidak terbebani lagi, beban hidupnya secara, tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan," jelasnya.

Purbaya menambahkan, fundamental ekonomi domestik dalam keadaan yang sangat baik. Ia juga menegaskan akan mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia agar kebijakan moneter dan fiskal sejalan dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik serta mengembalikan kepercayaan investor terhadap rupiah.

"Kita akan mendukung Bank Sentral memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian. Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan," pungkasnya.

(ahi/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads