Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menilai keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI rate 25 basis poin menjadi 5,50% merupakan langkah tepat. Hal ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan merespons gejolak pasar.
Menurut Airlangga, respons pasar terhadap kebijakan tersebut terbilang positif. Hal itu terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali berada di zona hijau serta nilai tukar rupiah yang mulai menguat.
"BI rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Dengan BI rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian rupiah juga sedikit menguat," ujar Airlangga saat ditemui di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, IHSG pada penutupan hari ini melesat sebesar 404,51 poin ke level 5.746,64 atau menguat 7,52%. Rupiah juga terpantau menguat terhadap dolar AS. Dikutip dari Bloomberg, mata uang Paman Sam turun 129,50 poin ke level Rp 18.058.
Airlangga menambahkan, stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama pemerintah. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, baik dari sisi ekspor maupun indikator makroekonomi.
"Jadi respons dari pasar terhadap stabilisasi dari BI rate ini cukup baik. Oleh karena itu, tentu kita terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi, karena ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro," tambah Airlangga.
Menanggapi anggapan bahwa kenaikan BI rate dilakukan secara terburu-buru karena diputuskan di luar jadwal, Airlangga menepis hal tersebut. Menurutnya, kenaikan BI rate justru menunjukkan Indonesia responsif dalam menghadapi gejolak dan ketidakpastian di pasar keuangan.
"Karena ini memang membutuhkan, market membutuhkan signal yang kuat. Dan dengan kenaikan BI rate 25 basis point itu market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang," tutup Airlangga.
(ily/hns)










































