Investor Masih Tunggu Putusan MSCI-FTSE Meski IHSG Terbang Tinggi

Investor Masih Tunggu Putusan MSCI-FTSE Meski IHSG Terbang Tinggi

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 16 Jun 2026 21:55 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada penutupan perdagangan di BEI Jumat (19/11). IHSG berada pada level 6.720,26.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan sepanjang perdagangan lima hari terakhir. Indeks saham bergerak menguat setelah menyentuh level terendahnya pada posisi 5.342,13 pada perdagangan Senin (8/6) kemarin.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG telah menguat 17,09% sepanjang perdagangan sepekan terakhir. Saat ini, indeks saham Garuda berada di level 6.254,96 berdasarkan data penutupan perdagangan Senin (15/6) kemarin.

Meski menguat signifikan beberapa waktu terakhir, IHSG masih mencetak net foreign sell atau aksi jual bersih investor asing. Pada perdagangan kemarin misalnya, aksi net foreign sell sebanyak Rp 105,86 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menilai penguatan IHSG tidak lantas mencerminkan kembalinya kepercayaan investor asing. Sepanjang 2026, net foreign sell di pasar modal Indonesia mencapai Rp 67,34 triliun.

ADVERTISEMENT

"Rebound signifikan IHSG tidak serta-merta berarti kembalinya dana asing ke dalam negeri," ungkap Valdy kepada detikcom dikutip Selasa (16/6/2026).

Ia mengatakan, investor masih akan mencermati hasil peninjauan dua lembaga besar penyedia indeks global, yakni MSCI dan FTSE. Pengumuman hasil peninjauan tersebut dijadwalkan pada 19 Juni mendatang.

"Pekan depan masih terdapat beberapa isu yang menjadi perhatian Utama, yaitu Global Market Accessibility Review dari MSCI (19/6) dan rebalancing indeks FTSE (19/6) yang kemungkinan besar akan mempengaruhi pergerakan IHSG di pekan depan," jelasnya.

Sinyal Kembalinya Foreign Investor

Pada kesempatan yang sama, diketahui sejumlah saham konglomerat menguat tajam seiring naiknya IHSG. Saham-saham ini diketahui mengalami tekanan luar yang tinggi menyusul pengumuman MSCI dan FTSE.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan saham-saham tersebut dianggap memiliki valuasi yang menarik setelah mengalami downtrend. Mengingat harganya yang mengalami penurunan yang cukup dalam.

Emiten kongsi Grup Bakrie dan Salim misalnya, menguat hingga 24,53% ke harga Rp 660 per saham pada perdagangan kemarin. Kemudian milik Prajogo Pangestu PT Chandra Asia Pacific Tbk (TPIA) menguat 13,51% ke harga Rp 2.100 per saham.

Sementara itu saham milik konglomerasi Grup Djarum, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), juga menguat tajam 13,37% ke harga Rp 390 per saham. Sedangkan saham plat merah, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) tercatat menguat 9,82% ke harga Rp 3.130 per saham.

"Dengan adanya saham-saham yang sudah terkoreksi cukup signifikan pada periode-periode sebelumnya, begitupun juga terdapat katalis positif dari merdaya risiko geopolitik global, maka valuasi saham-saham tersebut sudah sangat menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi," ungkap Nafan.

Menurutnya, hal ini cerminan awal kembalinya kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia. Foreign buy juga mulai terlihat meski tidak signifikan terhadap pasar modal Indonesia.

"Itu sebenarnya sudah mencerminkan bahwasannya sudah mulai kembalinya optimisme dan juga berkurangnya sikap risk of investor global. Terus juga apabila stabilitas nilai tukar rupiah dan economy domestic masih terus terjaga di tengah deeskalasi geopolitik, maka dari itu potensial aliran asing masuk atau foreign inflow secara berkelanjutan akan semakin terbuka lebar," pungkasnya.

Fase Bullish & Aksi Ambil Untung

Indeks saham Garuda sendiri disebut telah berada di bawah nilai wajar atau oversold pada saat menembus level 5.400 beberapa waktu lalu. Kemudian saat ini, IHSG mulai kembali pada fase penguatan dengan tren kenaikan signifikan sepanjang perdagangan lima hari terakhir.

"IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound," ungkap Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana.

Meski begitu, Wawan mengingatkan IHSG masih dibayangi aksi ambil untuk investor atau profit taking jika terdapat sentimen negatif. Sentimen tersebut dapat berasal dari meningkatnya kembali eskalasi AS-Iran hingga FOMC pekan ini.

Saat ini, Wawan juga tak menampik kenaikan IHSG ditopang oleh kesepakatan damai kedua negara tersebut. Kesepakatan itu membuka harapan dibuka kembalinya Selat Hormuz dan menurunkan harga minyak dunia yang dapat menurunkan tekanan subsidi dan fiskal bagi Indonesia.

"Tentu saja dengan kenaikan yang signifikan dalam 1 minggu, sangat mungkin akan terjadi profit taking bila katalis negatif datang," pungkasnya.

Halaman 3 dari 3
(ahi/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads