Rupiah Bisa Jatuh ke 9.500/US$
Minggu, 18 Nov 2007 13:30 WIB
Jakarta - Pergerakan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan menembus level Rp 9.500 per dolar AS pada pekan mendatang. Pelemahan rupiah akan terjadi meskipun perekonomian dalam negeri tidak memberikan sentimen yang jelek terhadap rupiah.Hal tersebut disampaikan pengamat pasar uang Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance, Minggu (18/11/2007). Menurutnya tingkat suku bunga di Indonesia masih menarik bagi investor, pasar modal masih menjanjikan dan meski tinggi, angka inflasi masih bisa ditahan."Namun tetap saja, rupiah bisa mengalami pelemahan hingga Rp 9.500 per dolar. Pergerakan rupiah ini aneh dan ajaib, mata uang lain menguat terhadap dolar, rupiah malah melemah. Rupiah paling aneh dan bodoh karena dikelola dengan bodoh hasilnya aneh dan bodoh juga," ujarnya.Salah satu sentimen negatif datang dari luar negeri khususnya AS, kasus kredit macet telah memaksa banyak fund manager dan bank-bank investasi melaporkan kerugian yang cukup besar. Para fund manager juga melakukan penyeimbangan kembali risiko setelah mengalami kerugian dari sektor itu. "Mereka rugi besar di AS, kemudian profit taking di negara-negara lain, termasuk Indonesia," ujarnya.Menurut Farial, rupiah sempat mengalami penekanan akibat tingginya harga minyak. Karena tingginya harga minyak, BUMN yang membutuhkan minyak seperti Pertamina mengeluarkan lebih banyak lagi rupiahnya untuk membeli dolar. "Tapi kan harga minyak sudah turun lagi," ujarnya. Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Jumat (16/11/2007) rupiah menguat 13 poin ke posisi 9.320 per dolar AS. Ini melemah dibanding posisi minggu sebelumnya Rp 9.122 - Rp 9.128 per dolar AS.
(ddn/ddn)











































