Pada perdagangan Senin (19/11/2007), rupiah dibuka menguat tipis ke level 9.290/9.295 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 9.320 per dolar AS.
Pengamat valas Farial Anwar mengatakan, rupiah pekan lalu sempat mengalami tekanan akibat tingginya harga minyak. Hal itu menyebabkan BUMN yang butuh minyak seperti Pertamina harus membeli dolar dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya.
Pelemahan yang terjadi di akhir pekan lalu, menurut Farial, juga berhubungan dengan penyeimbangan risiko yang dilakukan sejumlah investor global. Mereka yang sempat merugi besar di AS, lantas melakukan profit taking investasinya termasuk di INdonesia.
"Mereka rugi besar di AS, kemudian profit taking di negara-negara lain termasuk Indonesia," ujarnya.
Β (qom/qom)











































