PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) mematok harga saham di kisaran Rp 135 hingga Rp 170 per saham dalam kiprah perdananya pada penawaran umum saham atau initial public offering (IPO) bulan depan. Secara valuasi saham ini disebut-sebut masuk dalam kategori premium atau overvalue alias berada di atas batas wajarnya.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menjelaskan kapitalisasi pasar RANS diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,7 triliun hingga Rp 2,1 triliun jika dihitung berdasarkan rentang harga penawaran awal dengan laba bersih sekitar Rp 56,7 miliar sepanjang tahun 2025.
Alrich mengatakan, valuasi RANS ini mencerminkan Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 30-38 kali. Menurutnya, valuasi ini masuk dalam kategori premium mengingat perseroan masih dalam fase ekspansi dan belum memiliki rekam jejak pertumbuhan laba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Valuasi tersebut mencerminkan PER sekitar 30-38 kali. Secara relatif, valuasi ini dapat dikategorikan premium/overvalue untuk perusahaan yang masih berada dalam fase ekspansi dan belum memiliki rekam jejak pertumbuhan laba yang sepenuhnya konsisten," ungkap Alrich saat dihubungi detikcom, Selasa (23/6/2026).
Kendati begitu, Alrich menilai saham RANS relatif jarang ditemukan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, tidak banyak perusahaan yang membawa kombinasi bisnis media, entertainment, intellectual property (IP), dan digital ecosystem.
RANS disebut memiliki prospek dengan kemampuan monetisasi audiens dan pengembangan intellectual property (IP). Berbeda dengan bisnis media konvensional yang bergantung pada iklan, RANS memiliki peluang mengembangkan berbagai sumber pendapatan melalui konten digital, event, talent management, licensing, merchandise, hingga pengembangan bisnis baru seperti AI dan wahana hiburan.
Alrich menegaskan, investor tetap perlu mencermati kemampuan RANS dalam menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba jangka panjang. Dalam kondisi ini, ia menilai ekspektasi pertumbuhan menjadi faktor penopang valuasi saham yang mencerminkan fundamental perusahaan.
"Dengan valuasi yang relatif premium, investor perlu memberikan perhatian lebih pada kemampuan perseroan dalam menjaga konsistensi pertumbuhan pendapatan dan laba dalam jangka panjang," imbuhnya.
Bakal Diserbu Ritel?
Kiprah perdana RANS disebut akan menarik minat investor ritel mengingat perseroan memiliki popularitas yang kuat di segmen muda. RANS disebut memiliki model bisnis unik yang menggabungkan konten digital, hiburan, F&B, hingga properti, dalam satu naungan brand.
Namun, investor konstitusi disebut akan sangat selektif terhadap model bisnis creator economy yang saat ini masih berkembang. Di sisi lain, IPO perseroan digelar di tengah volatilitas pasar.
"Minat retail kemungkinan tinggi karena brand awareness RANS kuat di segmen muda, tapi institusi lebih selektif terhadap model bisnis creator economy yang masih berkembang. Timing IPO di pasar volatile jadi tantangan tambahan," jelas Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, saat dihubungi.
Menurutnya, saham RANS menarik untuk investor ritel yang berinvestasi secara thematic play. Sementara bagi investor fundamental, Wafi menilai mencermati konsistensi earnings dan monetisasi aset di luar personal brand.
Meski begitu, Wafi menilai RANS memiliki diversifikasi positif. Namun menurutnya, lingkup bisnis perseroan sulit untuk menentukan valuasi karena biasanya perusahaan pembanding (peers) hanya fokus di satu sektor.
Wafi menilai, rentang harga penawaran awal perlu dibandingkan dengan PER dan Price to Book Value (PBV) yang didasarkan pada laporan keuangan tahun buku 2025. Selain itu, terdapat risiko personal atau key person risk jika tokoh utama RANS terganggu.
"Menarik sebagai thematic play untuk investor retail, tapi investor fundamental perlu lihat konsistensi earnings dan monetisasi aset di luar personal brand. Pricing di rentang bawah lebih aman untuk downside protection pasca listing," jelasnya.
Peluang Harga Saham Naik
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai sulit untuk menetapkan target harga spesifik untuk RANS. Pasalnya, pergerakan harga saham ditentukan berdasarkan demand, flow ritel, dan institutional participation di awal kiprah.
Namun menurutnya, perusahaan dengan nama besar biasanya akan bergerak naik di awal kiprahnya. Selanjutnya, RANS akan masuk dalam fase price discovery atau periode di mana pasar berupaya menemukan nilai wajar saham perseroan.
"Secara umum, saham dengan strong brand seperti ini biasanya berpotensi mengalami pergerakan yang lebih agresif di awal, sebelum akhirnya pasar masuk ke fase price discovery berbasis fundamental," jelas Elandry.
Elandry menilai, harga IPO biasanya tidak hanya mencerminkan kinerja saat ini, tetapi memuat ekspektasi jangka menengah. Karenanya, potensi volatility di awal perdagangan masih cukup tinggi.
"Menurut saya untuk IPO RANS di rentang Rp 135 - Rp 170 per saham, market akan lebih banyak bermain di story vs fundamental execution. Jadi respons awalnya sangat dipengaruhi oleh market sentiment dan brand strength," pungkasnya.
Simak juga Video 'Raffi Ahmad Sebut Pembukaan Bioskop di Daerah Bakal Beri 5 Dampak Positif':
(acd/acd)










































