GGRM Tebar Dividen Jumbo, EMMI Tuntaskan Book Building saat IHSG Melonjak

GGRM Tebar Dividen Jumbo, EMMI Tuntaskan Book Building saat IHSG Melonjak

- detikFinance
Jumat, 26 Jun 2026 08:38 WIB
img-alt

Mega Capital Sekuritas

PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, hadir sejak 1991 dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli terpercaya.
GGRM Tebar Dividen Jumbo, EMMI Tuntaskan Book Building saat IHSG Melonjak
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam pada layar komputer
Jakarta -

Market Overview

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,96% ke posisi 5.999,04 pada perdagangan Kamis (25/6). Penguatan terjadi secara merata di seluruh sektor, dengan sektor infrastruktur memimpin kenaikan sebesar 3,81%.

Kenaikan IHSG ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar dan menengah. MORA melesat 16,30%, ASII naik 6,03%, serta BBCA bertambah 1,69%. Di sisi lain, pergerakan indeks masih tertahan oleh pelemahan AMMN sebesar 0,87%, BRMS 0,91%, dan ADMR 3,13%.

Meski pasar menguat, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp201,10 miliar di pasar reguler dan Rp299 miliar di seluruh pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam. Dow Jones menguat 0,14%, S&P 500 bergerak mendatar dengan penurunan tipis 0,01%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,46%.

Sentimen positif di pasar domestik muncul setelah Kementerian ESDM memberikan klarifikasi terkait kabar kenaikan kuota RKAB nikel 2026. Klarifikasi tersebut turut mendorong penguatan instrumen Indonesia di pasar luar negeri, tercermin dari kenaikan ETF EIDO sebesar 1,62% dan indeks MSCI Indonesia sebesar 1,57%.

ADVERTISEMENT

Rumor mengenai kenaikan kuota RKAB nikel 2026 dari sekitar 260–270 juta ton menjadi 360 juta ton sempat memicu perhatian pelaku pasar. Pasalnya, tambahan pasokan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga nikel dunia apabila terjadi kelebihan suplai.

Apabila skenario tersebut terjadi, emiten yang pendapatannya masih banyak bergantung pada harga bijih nikel seperti INCO, ANTM, NICL, dan IFSH dinilai berpotensi lebih sensitif terhadap perubahan harga komoditas.

Di sisi lain, perusahaan yang telah memiliki fasilitas pengolahan dan hilirisasi, seperti NCKL dan MBMA, diperkirakan memiliki fleksibilitas lebih baik karena tambahan pasokan bijih dapat mendukung utilisasi smelter maupun fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL).

Namun, Kementerian ESDM menegaskan bahwa hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai besaran kuota RKAB nikel tahun 2026. Dengan demikian, informasi mengenai kenaikan kuota tersebut masih belum dapat dipastikan.

Berita Emiten

PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)

EMMI telah merampungkan masa penawaran awal (book building) pada 22–24 Juni 2026 dan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026.

Perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan peralatan medis ini memasok berbagai perangkat untuk ruang operasi, ICU, hingga sistem sterilisasi. Saat ini, EMMI telah melayani lebih dari 200 rumah sakit dan institusi kesehatan di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam IPO tersebut, EMMI menawarkan maksimal 522,86 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan kisaran harga Rp446–515 per saham, perseroan berpotensi memperoleh dana hingga sekitar Rp269,27 miliar.

Sebanyak 10% dari saham yang ditawarkan atau sekitar 52,29 juta saham juga dialokasikan untuk program Employee Stock Allocation (ESA) sebagai bentuk apresiasi kepada karyawan yang memenuhi persyaratan.

Mayoritas dana hasil IPO, sekitar Rp184,99 miliar atau 68,70%, akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian barang untuk proyek, pengadaan bahan baku, dan persediaan. Sementara itu, sekitar Rp50 miliar dialokasikan untuk pembayaran sebagian pinjaman, Rp31,77 miliar untuk pembangunan fasilitas pabrik di Cikupa, dan sisanya digunakan untuk biaya emisi.

Langkah IPO ini menjadi bagian dari strategi EMMI untuk memperkuat kapasitas operasional sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis di tengah meningkatnya kebutuhan peralatan kesehatan di Indonesia.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

GGRM memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp800 per saham untuk tahun buku 2025 atau senilai total sekitar Rp1,54 triliun. Nilai tersebut setara dengan sekitar 98,89% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang 2025, pendapatan perseroan tercatat turun 9,41% secara tahunan menjadi Rp89,37 triliun. Meski demikian, penurunan beban usaha sebesar 13,81% menjadi Rp6,63 triliun membantu mendorong laba bersih meningkat 58,71% menjadi Rp1,56 triliun. Laba per saham (EPS) juga naik dari Rp510 menjadi Rp809.

Pada penutupan perdagangan Kamis (25/6), saham GGRM berada di level Rp16.900 per saham. Berdasarkan nilai dividen yang dibagikan, dividend yield tercatat sekitar 4,73%.

Adapun jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 1 Juli 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 23 Juli 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads