Puluhan Perusahaan Jepang Bangkrut Imbas Yen Melemah

Puluhan Perusahaan Jepang Bangkrut Imbas Yen Melemah

Andi Hidayat - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2026 16:37 WIB
Ilustrasi yen, mata uang Jepang
Ilustrasi/Foto: Getty Images/gaffera
Jakarta -

Puluhan perusahaan di Jepang dikabarkan bangkrut imbas melemahnya mata uang Yen (JPY) dan meningkatnya biaya ekonomi. Kondisi ini disebut menjadi yang terbesar sejak 2022.

Dikutip dari Straits Times, Kamis (2/7/2026), sebanyak 45 perusahaan bangkrut sepanjang 2026. Berdasarkan laporan Tokyo Shoko Research, angka tersebut naik 30% dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi ini disebut mencerminkan sulitnya perusahaan-perusahaan kecil di Jepang untuk bertahan di tengah tekanan pelemahan nilai tukar Yen. Imbasnya, perekonomian negara melemah meski eksportir disebut tetap ketiban untung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan Tokyo Shoko Research juga meningkatkan asumsi kenaikan suku bunga Bank Sentral Jepang (BoJ). Kendati kenaikan suku bunga dapat mendorong lebih banyak perusahaan menuju kebangkrutan, langkah tersebut dipercaya dapat menjaga stabilitas nilai tukar Yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

ADVERTISEMENT

Pelemahan Yen kuat dipicu oleh tingginya suku bunga AS yang diambil untuk menjaga inflasi di era pandemi. Sementara era suku bunga tinggi di Jepang diambil untuk menekan deflasi.

Kondisi Yen juga diperburuk oleh pergerakan harga minyak beberapa waktu lalu yang mendorong penguatan dolar AS. Pada perdagangan hari ini (2/7), Yen berada di level JPY 162 per dolar AS.

Meski kondisi ini menguntungkan para eksportir, di sisi lain pelaku importir mengalami tekanan imbas naiknya biaya impor. Hal ini juga berdampak pada keuntungan pelaku usaha di berbagai industri yang bergantung pada impor.

Konflik Timur Tengah

Konflik di Timur Tengah juga secara drastis meningkatkan biaya, yang tercermin pada indeks harga pembelian bahan baku dan barang dagangan di berbagai perusahaan kecil. Berdasarkan data BoJ, indeks harga produsen melonjak dalam beberapa bulan terakhir.

Kemudian laporan Tokyo Shoko Research menunjukkan kebangkrutan terutama terkonsentrasi di sektor grosir. Salah satu contohnya terjadi pada Merry Time Foods yang berbasis di Tokyo, sebuah perusahaan pengimpor kepiting, udang, dan tuna dari berbagai wilayah Asia lainnya.

Perusahaan tersebut bangkrut pada bulan Mei karena turunnya profitabilitas akibat pelemahan Yen dan ketidakstabilan politik di negara-negara pemasoknya. Kebangkrutan yang terkait dengan fluktuasi mata uang disebut akan tetap tinggi untuk beberapa waktu, terutama di kalangan pedagang grosir, pengecer, dan produsen dengan kekuatan penetapan harga yang terbatas.

Tekanan pelemahan nilai tukar ini disebut berdampak besar terhadap usaha kecil dan menengah. Di sisi lain, para pengusaha ini juga menghadapi tekanan kenaikan upah yang terus meningkat di tengah kekurangan tenaga kerja yang terus berlanjut.

Perusahaan-perusahaan kecil seringkali memiliki kemampuan terbatas untuk membebankan biaya yang lebih tinggi kepada pelanggan karena persaingan yang ketat.

"Melemahnya yen merupakan salah satu faktor penyebabnya. Dikombinasikan dengan inflasi dan kenaikan biaya tenaga kerja, hal ini menciptakan beban kumulatif bagi bisnis," ungkap Manajer Tokyo Shoko Research, Yoshihiro Sakata, dikutip dari Straits Times, Kamis (2/7/2026).

Selain itu, para pengusaha kecil menengah di Jepang juga mengalami tekanan pada investasi di produk nilai lindung valuta asing (valas). Pasalnya ketika nilai tukar mencapai ambang batas yang telah ditetapkan, opsi tersebut kedaluwarsa dan lindung nilai berhenti memberikan perlindungan.

Perusahaan yang membutuhkan dolar kemudian harus membelinya di pasar spot, melakukan lindung nilai baru yang seringkali kurang menguntungkan. "Semakin lemah yen, semakin banyak importir yang beralih ke struktur opsi yang semakin berisiko," kata Penasihat Eksekutif SBI FXTrade, Yuji Saito.

Para analis memperkirakan level reverse knockout yang tersisa berada di antara 163 dan 170 yen per dolar, wilayah yang menurut banyak perusahaan tidak akan dicapai oleh mata uang tersebut. Jika level tersebut tembus, diperkirakan ada peningkatan perusahaan terdampak pelemahan Yen.

"Jumlah perusahaan yang bangkrut bisa meningkat jika yen melemah lebih lanjut. Situasi ini menjadi signifikan bagi perusahaan yang tidak mampu meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen," kata direktur penjualan valuta asing dan komoditas Australia & New Zealand Banking, Hiroyuki Machida.

Lihat juga Video: Keluhan Warga Jepang Imbas Melemahnya Yen

Halaman 2 dari 2
(ahi/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads