Pesan buat yang Pegang Dolar, S&P Prediksi Nilai Tukar Balik ke Rp 17.700/US$

Pesan buat yang Pegang Dolar, S&P Prediksi Nilai Tukar Balik ke Rp 17.700/US$

Andi Hidayat - detikFinance
Senin, 13 Jul 2026 21:43 WIB
Seorang pegawai memperlihatkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di money changer PT Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (10/7/2026). Nilai tukar Dolar AS yang masih bertahan di kisaran Rp18.000 per dolar menjadi cerminan bahwa mata uang Neger
Ilustrasi.Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa kembali ke level Rp 17.700/US$. Bahkan lembaga tersebut memproyeksikan nilai tukar rupiah akan menguat terus pada tahun berikutnya.

Dalam laporannya berjudul Indonesia Ratings Affirmed At 'BBB/A-2'; Outlook Stable, lembaga tersebut memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada level Rp 17.700/US$ pada 2026. Kemudian, pada tahun selanjutnya, S&P Global Ratings memproyeksikan rupiah pada level Rp 17.500/US$.

Sementara berdasarkan data Bloomberg hingga penutupan perdagangan hari ini, Senin (13/7), rupiah ditutup melemah 0,24% di level Rp 18.109/US$.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Prospek (outlook) Indonesia juga tetap berada pada level stabil.

Berdasarkan laporannya, S&P menyatakan pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia dari sisi fiskal maupun eksternal masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu seiring kenaikan harga komoditas dan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara.

ADVERTISEMENT

S&P menilai posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang.

Meski demikian, S&P menilai tekanan tersebut tidak bersifat permanen. Perbaikan harga komoditas serta langkah pemerintah dalam mengendalikan belanja dinilai berpotensi membantu memperkuat kembali kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.

"Pada 13 Juli 2026, S&P Global Ratings menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis laporan S&P, Senin (13/7/2026).

(ahi/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads