Market Overview
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (22/7) dengan bergerak terbatas dan ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.334,48. Penguatan saham BREN sebesar 6,00%, CASA 6,94%, dan VKTR 10,32% membantu menopang indeks, sementara pelemahan BBRI 1,63%, AMMN 3,26%, dan BMRI 1,34% menjadi pemberat utama.
Dari aktivitas investor, asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,11 triliun di pasar reguler dan Rp920,34 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral, hanya tujuh sektor yang berakhir di zona hijau, sedangkan empat sektor melemah. Sektor transportasi mengalami penurunan terdalam sebesar 1,73%, sementara sektor teknologi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,58%.
Sentimen dari bursa global juga cenderung kurang kondusif. Indeks Dow Jones turun tipis 0,01% ke 52.218, S&P 500 melemah 0,14% ke 7.498, sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,57% ke 25.690. Arus keluar dana asing mencerminkan aksi realisasi keuntungan setelah tiga hari berturut-turut mencatat pembelian bersih, di tengah kenaikan IHSG sekitar 12,25% sejak awal bulan. Sejalan dengan itu, ETF EIDO turun 0,24% dan MSCI Indonesia melemah 0,88%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.334 |
Berita Emiten
PT Singaraja Putra Tbk (SINI)
SINI mengumumkan penyelesaian akuisisi 99,99% saham Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha PT Petrosea Tbk. (PTRO), dengan nilai transaksi mencapai Rp1,73 triliun. Nilai transaksi tersebut setara 110,26% dari total aset perseroan dan menjadi bagian dari langkah pengembangan portofolio bisnis di sektor batu bara.
Harga akuisisi berada sekitar 5,98% di bawah nilai pasar sebesar Rp1,84 triliun sehingga masih sesuai dengan ketentuan POJK Nomor 35 Tahun 2020. Perseroan juga menyampaikan estimasi tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR) dari transaksi tersebut sebesar 19,58%.
Melalui KMS, SINI memperoleh kepemilikan tidak langsung atas 99% saham Cristian Eka Pratama (CEP) yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi hingga Juli 2038 di Kalimantan Timur. Langkah ini diperkirakan menambah cadangan batu bara sekitar 69,25 juta ton hingga 89,25 juta ton sekaligus memperluas area operasional yang sebelumnya berfokus di Kalimantan Tengah.
KMS ditargetkan memulai produksi sekitar 1 juta ton batu bara per tahun pada tahap awal dan meningkat secara bertahap hingga kapasitas optimal 5 juta ton per tahun. Perseroan memperkirakan pendapatan dari entitas tersebut mencapai sekitar US$52 juta pada 2026 dan meningkat menjadi US$158,97 juta pada 2027. Kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasian diperkirakan sekitar 21,40% pada 2026 dan naik menjadi 27,06% pada 2027.
PT Elnusa Tbk (ELSA)
ELSA melanjutkan penerapan teknologi untuk mendukung peningkatan produksi migas. Perseroan berhasil mengimplementasikan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) berbasis polymer flooding pada proyek percontohan EOR Lapangan Rama milik PHE Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES).
Selain itu, ELSA bersama Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 juga menerapkan teknologi Dual Completion di Lapangan Adera. Teknologi ini memungkinkan dua reservoir diproduksi melalui satu sumur sehingga tidak memerlukan pengeboran sumur baru pada setiap lapisan.
Implementasi pada sumur BNG-D14 menghasilkan tambahan produksi sekitar 480 barel minyak per hari (BOPD) dan 3,30 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Capaian tersebut melampaui target awal sebesar 186 BOPD minyak dan 1,09 MMSCFD gas. Perseroan berencana menerapkan metode serupa pada sumur GNK-PD80 dan BNG-B7 sebagai bagian dari optimalisasi lapangan migas yang telah memasuki fase matang.
PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA)
MEJA menyiapkan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Dana yang diperoleh direncanakan digunakan untuk mendukung akuisisi perusahaan tambang batu bara Trimata Coal Perkasa (TCP).
Perseroan telah memperoleh persetujuan OJK untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 Agustus 2026. Agenda rapat mencakup persetujuan akuisisi TCP, pemberian kewenangan kepada direksi terkait peningkatan modal dasar sebagai dasar pelaksanaan rights issue, serta perubahan kegiatan usaha dari bidang dekorasi dan konstruksi bangunan menjadi perusahaan induk di sektor pertambangan batu bara.
TCP diketahui memiliki konsesi tambang sekitar 11.640 hektare di Sumatra Selatan dengan sumber daya batu bara mencapai sekitar 693,70 juta ton.
Baca juga: IHSG Terbang Lagi, Dekati Level 6.400 |
Rekomendasi Saham Hari Ini
ELSA - Buy 670-680 | TP 700-710 | SL 635
CPIN - Buy 3180-3200 | TP 3250-3300 | SL 3010
HRTA - Buy 1995-2010 | TP 2040-2080 | SL 1880
MDIA - Buy 101-103 | TP 106-109 | SL 95
SOCI - Buy 384-388 | TP 394-400 | SL 360
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ang/ang)









































