PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih menjadi Rp 30,4 triliun hingga Juni 2026. Angka tersebut naik sebesar 24,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Finance dan Strategi Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan faktor pendorong pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh pertumbuhan bisnis Bank Mandiri yang kuat. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 17,1% sehingga menghasilkan aset kredit tumbuh sebesar 19,9% dan pendapatan bunga bersih (NII/Net Interest Income) tumbuh 8%.
"Sampai dengan posisi Juni 2026, laba Bank Mandiri mencapai Rp 30,4 triliun atau 24,4% secara year-on-year," ujar Novita dalam paparan kinerja secara daring, Kamis (23/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Novita menjelaskan selain pertumbuhan bisnis, Bank Mandiri juga mempertahankan aset kualitas dengan baik. Hal ini tercermin pada tingkat Non-Performing Loan (NPL) ratio yang berada di kisaran 0,98% dengan tingkat coverage di stabil di 242% dan Cost of Credit (COC) stabil di angka 0,52%.
Capaian tersebut juga sejalan dengan strategi Bank Mandiri di mana dalam menyalurkan kredit fokus pada sektor yang prospektif dan juga resilien.
"Tidak hanya dari sisi pendapatan bunga, tapi pendorong pertumbuhan laba juga sangat dominan didorong oleh adanya fee-based atau non-interest income yang merupakan non-pendapatan bunga yang secara dihasilkan untuk pendapatan fee-based secara recurring. Kinerja tersebut terutama didorong oleh recurring income yang berasal dari fee Livin Bank Mandiri yang mampu berhasil tumbuh 46 persen. Kemudian fee dari Kopra Bank Mandiri ini tumbuh 22,8%, kemudian kita juga memiliki fee-based recurring yang berasal dari transaksi-transaksi terseri yang menghasilkan pertumbuhan fee sebesar 23%," beber Novita.
Ia optimistis dengan fundamental yang kuat strategi bisnis yang terarah dan disiplin dalam pengelolaan risiko, Bank Mandiri dapat menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan di tahun-tahun yang akan datang.
Sementara itu, Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengatakan hingga akhir semester I 2026, Bank Mandiri mampu menjaga kualitas aset dengan baik. Hal ini tercermin dari rasio NPL yang berada pada level 0,98%.
Saat ini, Bank Mandiri menjadi mitra bagi sekitar 55.000 usaha komersial yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pada periode yang sama, kredit segmen komersial mencapai Rp 343 triliun atau tumbuh 15% secara tahunan dengan rata-rata pertumbuhan yang cukup kuat sekitar 18% per tahun dalam 3 tahun terakhir.
Dari sektor pembiayaan, Bank Mandiri membidik industri-industri strategis yang menjadi penggerak ekonomi nasional, seperti perkebunan sawit dan CPO, transportasi, energi, industri batubara, serta jasa keuangan. Hal ini guna memastikan pembiayaan Bank Mandiri mampu menciptakan multiplier effect yang lebih luas terhadap aktivitas ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
"Di saat yang sama fitabilitas tetap berada pada level yang sangat sehat dengan ROE sebesar 24,3% dan ROA mencapai 3,10%," ujarnya.
(acd/acd)









































