Purbaya Pede Panda Bond Bikin Rupiah Berotot Sekaligus Tambal Defisit

Purbaya Pede Panda Bond Bikin Rupiah Berotot Sekaligus Tambal Defisit

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 23 Jul 2026 17:56 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.Foto: Retno Ayuningrum
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis penerbitan Panda Bond di pasar China dapat menguatkan nilai tukar Rupiah. Panda Bond, menurut Purbaya, menjadi salah satu instrumen penguat nilai tukar Rupiah.

"Rupiah akan cenderung menguat karena tekanan dari Dolar AS ini, jadi strategi ini memang dikembangkan dan maksimalkan instrumen yang ada untuk menjaga nilai tukar Rupiah. Ini juga BI yang melakukan ini saya hanya memanfaatkan saja," beber Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya Panda Bond juga menjadi sumber pendanaan obligasi bagi Indonesia. Dengan begitu, Indonesia tak lagi bergantung pada Dolar Amerika Serikat (AS) saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kan ini ini diversifikasi sumber pendanaan kita kan, kan sebelumnya kalo global hanya Dolar, kita diversifikasi ke Jepang, Australia, maupun China. China kan mata uangnya baru Renminbi yang daya belinya, emm pasarnya kuat sekali," ujar Purbaya.

Purbaya menilai China memiliki daya serap yang sangat kuat untuk obligasi bermata uang Rupiah. "Jadi daya serap mereka masih kuat, dan untuk bagi kita bagus ketergantungan terhadap Dolar akan significantly berkurang," paparnya.

ADVERTISEMENT

Dia juga mengatakan pembelian Panda Bond bisa menggunakan fasilitas Local Currency Transaction (LCT).

Investor China bisa membeli obligasi Rupiah dengan uang Yuan/Renminbi dan akan diubah menjadi Rupiah di Indonesia dengan kerja sama bank sentral.

Eks Bos LPS itu menambahkan hasil obligasi akan digunakan untuk menutup defisit.

"Saya akan pakai LCT, sehingga mereka bayar Yuan saya terima Rupiah di sini antar bank dengan central bank. Itu secara de facto, ini kan sekitar US$ 50 miliar, bilateral swap agreement ya, secara de facto seolah-olah reserve kita naik US$ 50 miliar," ujar Purbaya.

"Itu untuk nutup defisit sebagian," sambungnya.

(hal/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads