CEO Danantara Rosan Roeslani buka suara soal lembaga pemeringkat global, Moody's Ratings, menetapkan peringkat untuk obligasi senior tanpa jaminan (medium-term note/MTN) PT Danantara Investment Management (DIM) pada level Baa2 dengan outlook negatif.
Menurutnya, peringkat yang diberikan Moody's sejalan dengan pemberian peringkat negara atau sovereign rating.
"Itu kan sovereign rating. Itu kan sovereign rating, ya," ujar Danantara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (23/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melanjutkan nyatanya sejauh ini respons investor sangat baik dengan penerbitan obligasi Danantara. Dia mengatakan dirinya telah melakukan kunjungan langsung ke beberana negara untuk melihat antusiasme para investor.
"Justru kan saya sampaikan, kita kan kemarin menerbitkan obligasi 5 tahun, 10 tahun, responnya juga sangat-sangat positif. Lebih dari 120 perusahaan karena kita melakukan roadshow di apa, dari Singapura, Hong Kong, kemudian juga Jepang, Boston, New York, London, responnya sangat positif," sebut Rosan.
Rosan melanjutkan yield atau imbal hasil obligasi Danantara pun sangat baik. Bahkan pihaknya berencana untuk merilis obligasi jangka panjang hingga 10 tahun.
"Makanya yield kita kan waktu itu 5,35%. Jadi responnya sangat positif dan kita juga sedang mengkaji kemungkinan kalau kita mau issue untuk jangka panjang di atas 10 tahun," kata Rosan.
Dalam laporannya, Moody's mencatat peringkat obligasi Danantara ini selaras dengan penilaian kredit pemerintah. Hal ini disebut mencerminkan keterkaitan kredit antara DIM dan pemerintah, mengingat perseroan merupakan entitas usaha dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anangata Nusantara (Danantara) yang dikelola negara.
"Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 untuk obligasi senior tanpa jaminan dalam mata uang dolar AS yang akan diterbitkan oleh Danantara Investment Management (PT) (DIM). Obligasi ini diterbitkan berdasarkan program obligasi jangka menengah (MTN) global DIM senilai $5 miliar yang diberi peringkat (P)Baa2. Prospek peringkat tersebut negatif," ungkap laporan Moody's.
Moody's juga belum memberikan penilaian kredit dasar (baseline credit assessment/BCA) lantaran DIM merupakan perusahaan yang baru beroperasi, belum memiliki banyak rekam jejak, dan belum beroperasi dengan entitas usaha mandiri.
"Oleh karena itu, peringkat tersebut terutama didorong oleh keterkaitan dengan pemerintah daripada kekuatan kredit mandiri," jelasnya.
Meski begitu, Moody's menilai DIM memiliki tingkat likuiditas yang baik. Hal tersebut didukung oleh suntikan modal dari BPI Danantara seiring dengan upaya DIM membangun pendanaan eksternal, termasuk penerbitan obligasi perdananya beberapa waktu lalu.
(acd/acd)









































