Β
"Produk yang kita keluarkan ini boleh dibilang unik, karena risikonya sangat rendah. Produk ini satu-satunya produk reksa dana yang dijamin oleh lembaga penjamin asuransi, yaitu Askrindo," kata Presdir HAM, Helmy Azwary.
Hal itu diungkapkan Helmy, di acara peluncurkan produk reksa dana campuran yang bernama Harvestindo Reksa Dana Istimewa, di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta, Rabu (28/11/2007).
Mayoritas dana yang dikelola melalui produk ini akan diinvestasikan pada surat utang yang diterbitkan oleh perusahaam UKM, yang sepenuhnya dijamin oleh Askrindo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komposisi alokasi dananya adalah 75% pada surat utang perusahaan UKM, dan 25% sisanya pada produk-produk pasar modal seperti saham, obligasi, dan sebagainya.
"Return-nya 12% net. Investasi baik itu institusi maupun individu, tidak boleh di atas 2% dari izin yang diperoleh perseroan. Nilai izin yang diberikan sebesar Rp 1 triliun untuk 5 tahun. Jadi maksimal membeli produk ini sebesar Rp 20 miliar," kata Helmy.
Sejak berlaku izin efektif produk baru tersebut pada 20 September 2007, hingga saat ini dana yang dikelola sudah mencapai Rp 73 miliar. Hingga akhir tahun 2007, HAM menargetkan mencapai Rp 200 miliar.
"Hingga akhir 2008, kita menargetkan mencapai Rp 400 miliar, untuk produk baru ini saja. Kalau termasuk semua produk reksa dana yang sudah kita keluarkan, hingga saat ini dana kelolaan kita sudah Rp 200 miliar, dan hingga akhir tahun menargetkan total Rp 500 miliar," ujar Helmy.
Dana yang dibutuhkan untuk membeli produk baru ini minimal sebesar Rp 100 juta. Sejauh ini, 30% pembeli produk baru ini adalah individu-individu.
"Total penempatan dana awal produk baru ini sebesar Rp 10,45 miliar, yang diperoleh dari 15 sponsor, antara lain PT Asabri, PT Asuransi Jiwa Bumi Asih Raya, dan sebagainya. Kebanyakan dana pensiun," ujar Helmy.
Jadi selama dua bulan ini, menurut Helmy, dana kelolaan perseroan sudah bertambah di atas Rp 60 miliar. Sementara untuk tahun 2008 diproyeksikan industri reksa dana nasional mencapai Rp 200 triliun. (dro/ir)











































