Dolar AS Kembali Tembus Rp 18.000, BI Siapkan Jurus Ini Perkuat Rupiah

Dolar AS Kembali Tembus Rp 18.000, BI Siapkan Jurus Ini Perkuat Rupiah

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 29 Jul 2026 08:07 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia, lgo bank indonesia, bi, gedung bank indonesia di Jakarta
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pelemahan mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Stabilitas nilai tukar rupiah diperkuat untuk menjaga inflasi dan mendorong perekonomian.

Rupiah memang mengalami tekanan terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Dikutip dari Bloomberg, mata uang Paman Sam kini berada di level Rp 18.083 atau menguat 74 poin (0,41%).

Menurut Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, pihaknya terus mengoptimalkan kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).

ADVERTISEMENT

Berbagai instrumen tersebut antara lain triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging. Ini terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.

Erwin juga menyampaikan strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan diperkuat. Menurutnya posisi SRBI berada dalam tren yang lebih terkendali.

"Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," tuturnya.

Di sisi lain, BI juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas.

"Termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif. Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi," tutup Erwin.

(ily/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads