Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengubah batas auto rejection atas dan bawah (ARA/ARB). Perubahan ini dilakukan seiring dengan rencana penghapusan batas minimum harga saham Rp 50.
Auto rejection merupakan penolakan otomatis dari sistem terhadap order pembelian atau penjualan efek. Kondisi ini biasanya terjadi saat transaksi saham melewati batas harga maupun jumlah efek yang telah ditetapkan oleh Bursa.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan perubahan ini dilakukan agar proses penentuan harga saham di pasar menjadi lebih wajar. Meski demikian, ia tak menyebut rinci kapan perubahan tersebut akan diimplementasikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Detail akan kami sampaikan kemudian. Tujuan utamanya adalah agar price discovery menjadi lebih baik," ungkap Jeffrey kepada detikcom, Jumat (21/8/2026).
Untuk perubahan kategori ARB, saham dengan harga Rp 1 hingga Rp 10 akan menggunakan batas nominal sebesar Rp 1, bukan persentase. Sementara saham di rentang harga Rp 11- Rp 200, Rp 201-Rp 5.000, hingga di atas Rp 5.000 akan memiliki batas ARB sebesar 15%.
Sementara untuk kategori ARA, saham dengan harga Rp 1-Rp 10 juga akan menggunakan batas nominal Rp 1. Untuk saham seharga Rp 11-Rp 200, batas ARA ditetapkan 35%. Kemudian, saham di rentang Rp 201-Rp 5.000 memiliki batas ARA 25%, sedangkan saham di atas Rp 5.000 sebesar 20%.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, mengatakan perubahan ARA dan ARB ini sedang dalam proses pengujian. Rencananya, perubahan ini akan diimplementasikan pada 7 September 2026 sebagaimana unggahan Stockbit.
"Yang disampaikan Stockbit benar itu rencananya, sedang dalam pengujian," ujar Irvan.
BEI telah membahas rencana tersebut bersama Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII). BEI juga berdiskusi dengan sejumlah investor global untuk menghimpun pandangan dan tanggapan mereka terhadap rencana tersebut.
"Kemarin tanggal 19 Agustus sudah dilakukan diskusi dengan APEI dan AMII untuk mendapat respon dari pelaku. Diskusi dengan investor global juga kami lakukan. Detail akan sampaikan kemudian setelah menghimpun masukan dari pelaku dan juga mengukur kesiapan platform perdagangan di Anggota Bursa," pungkasnya.
(acd/acd)









































