Simak Rekomendasi Saham saat IHSG Menguat

Simak Rekomendasi Saham saat IHSG Menguat

- detikFinance
Jumat, 28 Agu 2026 08:58 WIB
img-alt

Mega Capital Sekuritas

PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, hadir sejak 1991 dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli terpercaya.
Simak Rekomendasi Saham saat IHSG Menguat
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam
Jakarta -

Market Overview

Sejumlah kabar emiten mewarnai perdagangan saham pada Kamis (27/8/2026). Di tengah perkembangan sejumlah emiten tersebut, IHSG mengakhiri perdagangan Kamis di zona hijau. Indeks naik 1,81% ke level 6.521,75.

Saham SRAJ naik 13,90%, BRMS menguat 6,25%, dan DSSA bertambah 6,54%. Ketiganya menjadi saham yang memberikan kontribusi penguatan pada perdagangan hari tersebut. Sebaliknya, BYAN turun 2,12%, MSIN melemah 1,84%, dan AMRT terkoreksi 0,36%.

Aktivitas investor asing masih mencatatkan tekanan jual. Di pasar reguler, asing membukukan net sell Rp113,45 miliar. Jika memperhitungkan seluruh pasar, nilai net sell mencapai Rp262,11 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aksi jual asing juga terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. BBRI, TLKM, BBNI, ISAT, ASII, dan BBCA mencatatkan akumulasi net sell asing sekitar Rp539 miliar.

Dari sisi sektoral, seluruh 11 sektor di BEI ditutup menguat. Sektor Industrials mencatat kenaikan sebesar 3,95%.

ADVERTISEMENT

Pergerakan positif juga terlihat di pasar saham Amerika Serikat. Dow Jones naik 0,20% ke level 53.569, S&P 500 bertambah 0,72% ke 7.730, sedangkan Nasdaq menguat 1,57% ke 26.541. Sementara itu, ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia sama-sama mencatat kenaikan 1,12%.

Lalu, pada 28 Agustus 2026 silam pihak BEI meluncurkan IDX Green Equity Designation (IGREEN). Penanda tersebut ditujukan bagi emiten yang memiliki kegiatan usaha yang berkaitan dengan ekonomi hijau maupun perusahaan yang sedang menjalani transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Pada tahap awal, tiga saham mendapatkan designation tersebut. HGII atau Hero Global Investment dan KEEN atau Kencana Energi Lestari masuk dalam kategori Green Equity. Sementara TOBA atau TBS Energi Utama masuk kategori Green Equity Transition.

Penetapan IGREEN antara lain mempertimbangkan kesesuaian kegiatan usaha perusahaan dengan taksonomi hijau. Untuk perusahaan yang telah menghasilkan pendapatan, lebih dari 50% pendapatan tahunan harus berasal dari aktivitas hijau.

Sementara bagi perusahaan yang masih pre-revenue, lebih dari 50% belanja modal (CAPEX) atau belanja operasional (OPEX) harus dialokasikan untuk aktivitas hijau atau transisi. Dalam prosesnya, penilaian juga melibatkan external party reviewer independen. Status designation tersebut kemudian akan dievaluasi secara tahunan.

Berita Emiten

Rans Entertainment Indonesia (RANS)

RANS membukukan kenaikan laba bersih pada semester I 2026, sementara Citra Borneo Utama (CBUT) mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. Di pasar saham, IHSG juga ditutup menguat 1,81% ke level 6.521,75.

RANS membukukan pendapatan Rp149 miliar pada paruh pertama 2026. Angka tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp171,60 miliar.

Penurunan pendapatan RANS antara lain berasal dari bisnis konten media sosial yang turun menjadi Rp42,31 miliar dari Rp52,35 miliar. Pendapatan dari brand ambassador dan talent management juga turun menjadi Rp19,37 miliar, dibandingkan Rp36,53 miliar pada 1H25.

Meski pendapatan mengalami penurunan, RANS mencatat laba bersih Rp23,76 miliar. Laba tersebut naik 10,99% secara tahunan dari Rp21,40 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan laba tersebut didukung oleh efisiensi serta penurunan beban. Dengan demikian, peningkatan laba RANS pada periode tersebut lebih berkaitan dengan perbaikan struktur biaya dibandingkan kenaikan pendapatan operasional.

Dari perdagangan saham, RANS ditutup di atas EMA 21 dengan peningkatan volume. Secara teknikal, saham RANS memiliki ruang pergerakan menuju Rp228.

Citra Borneo Utama (CBUT)

CBUT mencatat perubahan kinerja pada semester I 2026. Pendapatan perusahaan mencapai Rp9,27 triliun, naik 39,20% dibandingkan Rp6,66 triliun pada 1H25.

Beban pokok penjualan ikut meningkat 25,20% menjadi Rp7,24 triliun dari Rp5,78 triliun. Namun, kenaikan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan beban pokok penjualan turut mendorong peningkatan laba bersih.

Laba bersih CBUT tercatat Rp169,66 miliar, melonjak 301,90% secara tahunan dari Rp42,40 miliar. Perbedaan pertumbuhan antara pendapatan dan laba menunjukkan adanya perubahan pada profitabilitas dan operating leverage perusahaan.

Ekspansi pasar ekspor menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja CBUT pada 2026. Dari sisi teknikal, saham CBUT berpotensi bergerak menuju Rp1.080 setelah menembus area resistance Rp890.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads