Emas Freeport Masuk ke HRTA, BYAN Mulai Produksi Lagi

Emas Freeport Masuk ke HRTA, BYAN Mulai Produksi Lagi

- detikFinance
Jumat, 25 Sep 2026 08:23 WIB
img-alt

Mega Capital Sekuritas

PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, hadir sejak 1991 dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli terpercaya.
Emas Freeport Masuk ke HRTA, BYAN Mulai Produksi Lagi
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam
Jakarta -

Market Overview

Pergerakan IHSG masih berada di zona merah pada perdagangan Kamis (24/9). IHSG ditutup turun 1,20% ke level 6.298,61.

Sejumlah saham tercatat bergerak positif dan menjadi penggerak indeks, yakni FORU yang naik 24,58%, DCII sebesar 1,52%, serta DSSA yang menguat 1,87%. Di sisi lain, saham BMRI terkoreksi 2,86%, BBRI turun 1,57%, dan BBCA melemah 1,19%.

Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Di pasar reguler, asing mencatatkan net sell Rp1,42 triliun, sedangkan jika dihitung di seluruh pasar, net sell mencapai Rp1,49 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh 11 sektor saham di BEI berakhir melemah. Sektor Basic Materials menjadi sektor dengan penurunan paling dalam, yakni 2,17%.

Sementara dari bursa AS, perdagangan ditutup bervariasi. Dow Jones turun 0,31% ke 51.349, S&P 500 melemah tipis 0,02% ke 7.704, sedangkan Nasdaq naik tipis 0,01% ke 26.939.

ADVERTISEMENT

Koreksi saham-saham bank besar turut menekan IHSG. Empat bank besar secara keseluruhan memberikan kontribusi negatif 26 poin, terdiri dari BBCA sebesar -9,79 poin, BBRI -7,29 poin, BMRI -6,61 poin, dan BBNI -2,31 poin. Pergerakan ini juga berlangsung di tengah pelemahan ETF EIDO sebesar 1,71% dan MSCI Indonesia sebesar 1,56%.

Berita Emiten

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)

HRTA menambah sumber pasokan emas domestik melalui kerja sama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Kerja sama tersebut dituangkan dalam Gold Bar Spot Sale and Purchase Agreement untuk pembelian emas murni berkadar 99,99%. Emas yang dibeli berbentuk cast bars dengan berat 1 kilogram dan diproduksi melalui fasilitas Precious Metal Refinery milik PTFI di Gresik, Jawa Timur.

Pada tahap awal, HRTA telah melakukan pembelian sebanyak 50 kilogram emas murni. Emas tersebut telah diterima di fasilitas HRTA yang berada di Bandung pada 16 September 2026.

Kerja sama dengan PTFI menambah daftar sumber pasokan domestik HRTA. Sebelumnya, perseroan telah menjalin kerja sama dengan unit tambang emas Grup United Tractors (UNTR), yaitu Agincourt Resources (PTAR/Tambang Emas Martabe) dan Danusa Tambang Nusantara (DTN), serta fasilitas pemurnian Emas Murni Abadi (EMA).

Kemitraan tersebut diteken pada April 2026. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan rantai pasok emas HRTA dari sumber bahan baku dalam negeri hingga proses pengolahan dan manufaktur.

Ekspansi juga dilakukan pada sisi kapasitas. HRTA menargetkan kapasitas pabrik terintegrasi mencapai 60 ton per tahun, sementara kapasitas refinery ditingkatkan menjadi 30 ton per tahun dari sebelumnya 18 ton.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

BYAN mencabut status force majeure yang sebelumnya berlaku pada tiga anak usahanya, yaitu Tiwa Abadi (TA), Tanur Jaya (TJ), dan Fajar Sakti Prima (FSP). Status tersebut dicabut setelah ketiga perusahaan memperoleh persetujuan lengkap atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian ESDM pada 23 September 2026.

Dengan persetujuan tersebut, ketiga anak usaha BYAN dapat kembali menjalankan kewajiban penyediaan batu bara sesuai Coal Supply Agreement kepada pelanggan. Aktivitas produksi, pengangkutan, dan penjualan juga dapat dilanjutkan.

Selain itu, perubahan RKAB memberikan tambahan kuota produksi hingga 20 juta ton. Tambahan kuota tersebut membuat ruang produksi ketiga entitas menjadi lebih besar dibanding kondisi sebelumnya.

PT PAM Mineral Tbk (NICL)

NICL memutuskan pembagian dividen tunai interim untuk periode buku Juni 2026 sebesar Rp6 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai Rp63,81 miliar. Keputusan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris pada 23 September 2026.

Dari sisi kinerja keuangan, NICL mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp121,60 miliar untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026. Total aset perseroan tercatat Rp962,05 miliar, sementara kekayaan bersih mencapai Rp831,24 miliar.

Dengan nilai dividen tersebut, dividend payout ratio mencapai 52,48% dari laba bersih semester I-2026. Setelah pembagian dividen, kekayaan bersih NICL diproyeksikan menjadi Rp767,43 miliar. Nilai tersebut masih berada di atas modal disetor dan cadangan wajib yang tercatat sebesar Rp468,66 miliar, sesuai ketentuan Pasal 72 UUPT.

Pada perdagangan 24 September 2026, saham NICL ditutup di level Rp434 per saham. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim Rp6 per saham setara dengan dividend yield 1,38%.

Adapun perseroan belum menetapkan jadwal cum date dan tanggal pembayaran dividen. Kedua tanggal tersebut akan diumumkan lebih lanjut oleh NICL.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

(ang/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads