Aksi Demo Karyawan Tak Pengaruhi Produksi Nikel Inco

Aksi Demo Karyawan Tak Pengaruhi Produksi Nikel Inco

- detikFinance
Senin, 17 Des 2007 12:20 WIB
Jakarta - Meski sempat diguncang aksi pemogokan karyawan selama 11 hari, PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) yakin target produksi nikel pada akhir tahun 165 juta ton akan tercapai. Bahkan tahun ini produksi nikel Inco diperkirakan mencapai rekor tertinggi.

"Sebelumnya rekor tertinggi kita 2005 itu 168 juta ton tahun 2007 ini akan melebihi top rekor tahun 2005," ujar Presdir Inco Arif Siregar dalam jumpa pers usai RUPSLB di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin (17/12/2007).

Sekitar 500 karyawan Inco melakukan aksi mogok pada bulan November di Makassar, Sulawesi Selatan karena masalah kurangnya bonus yang diterima karyawan. Mereka menilai bonus yang diterima tidak sebanding dengan kinerja Inco yang mengkilau pada 2007.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arif juga mengatakan rencana pembangunan bendungan Karede di Sulawesi untuk meningkatkan produksi nikel masih berjalan sesuai rencana. Bendungan ini diperkirakan selesai sesuai target pada 2010 atau 2011. "Untuk pendanaannya dan investasinya baru akan dibahas pada tahun depan," ujarnya.

Sementara itu terkait permintaan pemerintah untuk mengganti kontrak karya terkait perhitungan royalti tahun 2008-2025 Arif mengatakan pihaknya bersedia mendengarkan alasan pemerintah untuk mengganti kembali sistem royalti dari flat ke floating.

Arif menjelaskan dalam kontrak karya generasi pertama yang berlaku sampai Maret 2008 sistem royalti yang dibayarkan Inco bersifat floating mengikuti harga komoditas.

Namun untuk tahun 2008-2025 awalnya pemerintah akan mengganti sistem floating tersebut dengan flat. Namun karena perhitungan pemerintah sempat keliru maka pemerintah mendesak Inco untuk kembali menerapkan sistem floating.

"Pemerintah sebelumnya menetapkan flat karena mengestimasikan harga nikel US$ 6-7 per ton, tapi sekarang saja harga nikel US$ 11 per ton, jadi kalau flat pembayaran royalti yang berlaku saat ini lebih tinggi dibandingkan kontrak karya yang baru, kami bersedia mendengarkan alasan pemerintah kenapa pemerintah tidak jadi menerapkan itu," ujarnya

Arif mengatakan kesepakatan mengenai royalti diharapkan sudah bisa mencapai titik temu sebelum Maret 2008.
(ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads