IHSG Masih Tertekan di Sesi I Usai Batas Saham Gocap Dihapus

IHSG Masih Tertekan di Sesi I Usai Batas Saham Gocap Dihapus

Andi Hidayat - detikFinance
Senin, 28 Sep 2026 12:50 WIB
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah  254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkut
Ilustrasi harga saham anjlok di zona merah. Foto: ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah seiring penerapan perubahan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Hingga paruh perdagangan siang ini, IHSG melemah di level 6.100-an.

Berdasarkan data RTI Business, Senin (28/9/2026), IHSG melemah 0,97% ke level 6.181,43 hingga penutupan perdagangan sesi I. Indeks saham Garuda bergerak melemah sejak perdagangan pagi tadi, dengan level terendah di posisi 6.174,30.

Volume perdagangan pada paruh pertama perdagangan hari ini sebesar 23,38 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,41 triliun. Frekuensi saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 1.020.488 kali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada sebanyak 496 saham melemah, 193 saham menguat, dan 102 saham stagnan. Sementara itu, indeks LQ45 paruh pertama hari ini tercatat melemah 0,86% ke level 615.796.

Untuk diketahui harga saham terendah Rp 1 mulai diterapkan mulai hari ini. Hal ini seiring dengan penghapusan harga saham minimum Rp 50 dan perubahan aturan terkait dengan Papan Pemantauan Khusus.

ADVERTISEMENT

Mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas, sentimen pergerakan IHSG hari ini didorong oleh implementasi kebijakan BEl terkait penghapusan batas harga minimum saham. Perubahan tersebut dinilai meningkatkan potensi volatilitas pada saham berharga rendah.

"Kebijakan ini diharapkan memperluas ruang perdagangan dan meningkatkan kualitas pembentukan harga, terutama bagi saham yang selama ini stagnan di batas minimum. Namun, perubahan tersebut juga berpotensi meningkatkan volatilitas pada saham berharga rendah," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas, Senin (28/9/2026).

Selain itu, pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga global, arah yield US Treasury dan pergerakan dolar AS, nilai tukar rupiah, arus modal asing, geopolitik, hingga perkembangan harga komoditas. Berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas, 10-Year Bond Yield telah menyentuh angka 5,167% memicu kecemasan akan berlanjutnya inflasi.

Kondisi tersebut dinilai memperbesar ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober 2026. Sementara terkait geopolitik, terjadi karena perkembangan diplomasi AS-Iran di sela sidang umum PBB tentang gencata senjata untuk meredakan konflik dan pembukaan Selat Hormuz.

Hal itu juga turut memberikan katalis bagi penurunan harga minyak Brent sebesar 2,02% di level US$ 97,44 per barel. Kesepakatan perpanjangan gencatan perang dagang AS-China selama dua bulan juga disebut menjadi sentimen pergerakan IHSG hari ini.

"Sentimen utama yang akan memengaruhi IHSG antara lain perkembangan kebijakan suku bunga global, arah yield US Treasury dan pergerakan dolar AS, dinamika nilai tukar rupiah, arus modal asing, perkembangan geopolitik serta perkembangan harga komoditas," tulis Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, dalam risetnya.

(ahi/hal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads