Hal itu disampaikan peneiliti ekonomi Mahyus Ekananda dalam Economic Outlook 2008 Perkembangan Ekonomi Indonesia Tren dan Tantangan di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu (19/12/2007).
"Perkiraan saya, fluktuasi nilai tukar di awal 2008 sangat fluktuatif. Tapi kemudian akan berakhir di Rp 9.300. Itu di bulan Juni," katanya.
Mahyus sebenarnya mengaku sempat bingung memprediksi nilai tukar pada awal 2008. Kondisi tersebut menyamai kondisi tahun 2005, saat rupiah ikut bergejolak karena harga minyak yang terus membara.
"Perkiraan ini hampir mirip dengan tahun 2005 saat harga minyak bumi naik hampir 200 persen," katanya.
Namun beberapa hal yang membuatnya lebih optimis bahwa Indonesia akan lebih tahan banting kali ini adalah fundamental ekonomi yang lebih kuat menghadapi tekanan global.
Fluktuasi nilai tukar ini tak lepas dari fluktuasi harga minyak dunia yang juga diprediksi tinggi.
Menghadapi fluktuasi harga minyak dan nilai tukar pada awal 2008 ini, Mahyus menyarankan agar bank sentral lebih reaktif merespon perubahan yang terjadi. (lih/qom)











































