Danantara Turun Tangan Jika IHSG Tertekan, Siapkan Rp 17,89 Triliun

Danantara Turun Tangan Jika IHSG Tertekan, Siapkan Rp 17,89 Triliun

Andi Hidayat - detikFinance
Sabtu, 10 Okt 2026 16:47 WIB
IHSG dibuka menguat pada perdagangan Jumat (30/1/2026) setelah dua hari tertekan. Rebound pasar terjadi seiring pengunduran diri Direktur Utama BEI Iman Rachman.
Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) siap turun tangan membantu Bursa Efek Indonesia saat menghadapi tekanan. Namun, pembelian saham harus dilakukan secara hati-hati, terutama untuk saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

Mengutip laporan Reuters, statemen ini bisa menjadi sentimen positif untuk menekan potensi pelemahan pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga disebut berpotensi semakin terpuruk jika MSCI memangkas klasifikasi pasar modal Indonesia bulan depan.

Danantara sendiri menyiapkan dana hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,89 triliun (asumsi kurs Rp 17.891) untuk berinvestasi di pasar modal domestik hingga akhir tahun 2026. Sementara saat ini, Danantara telah mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 53,67 triliun untuk investasi saham dan obligasi asing maupun domestik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika terjadi krisis di pasar, dan kami merasa bahwa itu hanya berdasarkan sentimen eksternal yang bersifat sementara... maka kami mungkin akan turun tangan," kata Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, dikutip dari Reuters, Sabtu (10/10/2026).

Ia mengatakan, Danantara mulai mengalokasikan dana untuk berinvestasi di pasar modal domestik sejak akhir tahun lalu. Investasi tetap berlanjut saat IHSG tertekan aksi jual menyusul peringatan MSCI pada Januari yang membuka ruang pemangkasan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

ADVERTISEMENT

Danantara juga terbuka untuk kembali turun tangan jika MSCI memangkas peringkat pasar modal Indonesia bulan depan. Namun Piputri menegaskan, Danantara perlu melakukan uji tuntas sebelum melakukan hal tersebut.

"Kami mungkin akan turun tangan. Mungkin saja... tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan," kata Rani.

"Kami membeli (awal tahun ini) karena kami melihat nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Sangat bagus ketika orang tidak menyukai sesuatu dan kami melihat nilai di dalamnya, karena dengan begitu Anda mendapatkannya dengan harga yang bagus. Kemudian ketika mereka menyukainya, kami dapat menjualnya kepada mereka," sambungnya.

Rani menjelaskan Danantara memegang mandat untuk mengelola aset negara sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan. Danantara juga diberi kewenangan untuk memanfaatkan dividen untuk mengoptimalkan hasil investasi.

Portofolio dana yang dikelola terdiri dari 65% saham, 30% instrumen pendapatan tetap, dan 5% dana lindung nilai hedge fund. Sekitar seperempat dari total portofolio tersebut ditempatkan di Indonesia.

Perempuan yang direkrut dari Wall Street itu menilai eksposur dana yang dikelolanya terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) sudah dilakukan secara bijaksana.

"Kami tidak berpikir (AI) adalah gelembung dan kami tidak berpikir itu akan meledak, tetapi kami hanya ingin berhati-hati memasuki bidang ini karena kami agak terlambat," katanya.

"Anda sudah mulai mendengar orang-orang membicarakan (gelembung) yang bagus, karena itu menjaga pasar tetap terkendali. Jika semua orang berpikir AI adalah investasi yang baik, maka kita punya masalah," tambahnya.

Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara Pahala Mansury menambahkan dana tersebut ditargetkan menghasilkan imbal hasil 200-300 basis poin di atas biaya modal. Sebagai acuan, biaya modal Danantara tercermin dari penerbitan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni lalu dengan imbal hasil 5,35%.

Selain itu, dividen sebesar Rp 120 triliun yang sebelumnya disebut oleh Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan sebelumnya) akan disetorkan Danantara kepada pemerintah tahun ini berpotensi ditahan. Pahala mengaku masih berdiskusi dengan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, terkait hal tersebut.

"Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan (yang baru) Suahasil," katanya.

"Sejauh ini indikasi yang kami dapatkan adalah kami masih dapat mengelola dividen, tetapi tentu saja kami masih akan menunggu keputusan akhir," tambahnya.

Pahala menegaskan, Danantara tidak memiliki peran eksplisit dalam menstabilkan pasar.

"Kami percaya peran kami adalah untuk memastikan bahwa apa pun yang kami lakukan, investor asing tidak akan melihatnya sebagai semacam intervensi pasar, melainkan sebagai cara bagi kami untuk terus berkontribusi pada pendalaman keuangan (dan) tata kelola yang lebih baik," pungkasnya.

(ahi/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads