Bisnis perusahaan investasi Singapura, Temasek Holdings, makin menggurita. Temasek kini tengah mendekati bank Amerika Serikat yakni Merril Lynch. Jika Merril Lynch setuju pinangan Temasek, dana segar miliaran dolar akan mengucur dari kantong Temasek.
Seperti dikutip Financial Times, Minggu (23/12/2007), kedua belah pihak telah mengadakan serangkaian pertemuan di New York untuk membahas minat Temasek itu. "Merril dan Temasek sudah berdiskusi dalam jangka waktu yang lama, namun negosiasi itu belum memberikan hasil," ujar salah seorang sumber.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gara-gara krisis ini, CEO Merril, Stan OโNeal, mundur. Padahal O'Neal sudah mengabdi di Merril dalam waktu yang cukup lama.
Saham bank AS itu kini terdepresiasi tahun ini, kapatalisasi pasarnya pun menciut menjadi US$ 47 miliar. Para analis yakin Merril cukup nyaman jika Temasek membeli saham Merril hingga 10 persen.
Dana segar dari kawasan Asia memang tengah mengalir. Pekan ini, Morgan Stanley menerima suntikan modal US$ 5 miliar dari China Investment Corporation.
Minggu lalu, UBS menerima US$10 miliar dari Government of Singapore Investment Corp, saudaranya Temasek. Sementara Citigroup menerima US$ 7,5 miliar dari perusahaan investasi Abu Dhabi.
Perjanjian ini semakin menguatkan sinyal bahwa lembaga sovereign wealth funds di Asia makin berkembang. Lembaga-lembaga keuangan ini semakin menunjukkan minatnya untuk menanamkan modal di lembaga keuangan barat.
(ddn/ddn)











































