Rp 17,89 Triliun buat Jaga-jaga Jika Pasar Modal Kena Masalah

Rp 17,89 Triliun buat Jaga-jaga Jika Pasar Modal Kena Masalah

Andi Hidayat - detikFinance
Minggu, 11 Okt 2026 06:30 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan
Ilustrasi.Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) bakal turun tangan ketika pasar modal Indonesia mengalami tekanan. Meski begitu, setiap keputusan pembelian saham akan dilakukan secara hati-hati, terutama untuk saham-saham yang bergerak di sektor kecerdasan buatan (AI).

Mengutip Reuters, kesiapan Danantara tersebut dinilai dapat menjadi sentimen positif di tengah risiko pelemahan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali tertekan jika MSCI menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia bulan depan.

Danantara menyiapkan dana hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,89 triliun (asumsi kurs Rp 17.891) untuk berinvestasi di pasar modal domestik hingga akhir tahun 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara saat ini, Danantara telah mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 53,67 triliun untuk investasi saham dan obligasi asing maupun domestik.

"Jika terjadi krisis di pasar, dan kami merasa bahwa itu hanya berdasarkan sentimen eksternal yang bersifat sementara... maka kami mungkin akan turun tangan," ujar Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management Rani Piputri dikutip dari Reuters, Sabtu (10/10/2026).

ADVERTISEMENT

Rani menjelaskan Danantara mulai mengalokasikan dana untuk berinvestasi di pasar modal domestik sejak akhir tahun lalu.

Investasi tetap berlanjut saat IHSG tertekan aksi jual menyusul peringatan MSCI pada Januari yang membuka ruang pemangkasan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Danantara juga terbuka untuk kembali turun tangan jika MSCI memangkas peringkat pasar modal Indonesia bulan depan. Namun Piputri menegaskan, Danantara perlu melakukan uji tuntas sebelum melakukan hal tersebut.

"Kami mungkin akan turun tangan. Mungkin saja... tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan," tutur Rani.

"Kami membeli (awal tahun ini) karena kami melihat nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Sangat bagus ketika orang tidak menyukai sesuatu dan kami melihat nilai di dalamnya, karena dengan begitu Anda mendapatkannya dengan harga yang bagus. Kemudian ketika mereka menyukainya, kami dapat menjualnya kepada mereka," terangnya.

Danantara memegang mandat untuk mengelola aset negara sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan. Danantara juga diberi kewenangan untuk memanfaatkan dividen untuk mengoptimalkan hasil investasi.

Portofolio dana yang dikelola terdiri dari 65% saham, 30% instrumen pendapatan tetap, dan 5% dana lindung nilai hedge fund. Sekitar seperempat dari total portofolio tersebut ditempatkan di Indonesia.

Perempuan yang direkrut dari Wall Street ini menilai eksposur dana yang dikelolanya terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) sudah dilakukan secara bijaksana.

"Kami tidak berpikir (AI) adalah gelembung dan kami tidak berpikir itu akan meledak, tetapi kami hanya ingin berhati-hati memasuki bidang ini karena kami agak terlambat," tutur Rani.

"Anda sudah mulai mendengar orang-orang membicarakan (gelembung) yang bagus, karena itu menjaga pasar tetap terkendali. Jika semua orang berpikir AI adalah investasi yang baik, maka kita punya masalah," tambahnya.

Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara Pahala Mansury menjelaskan dana tersebut ditargetkan menghasilkan imbal hasil 200-300 basis poin di atas biaya modal.

Sebagai acuan, biaya modal Danantara tercermin dari penerbitan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni lalu dengan imbal hasil 5,35%.

Selain itu, dividen sebesar Rp 120 triliun yang sebelumnya disebut oleh Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan sebelumnya) akan disetorkan Danantara kepada pemerintah tahun ini berpotensi ditahan.

Pahala menambahkan masih berdiskusi dengan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, terkait hal tersebut.

"Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan (yang baru) Suahasil. Sejauh ini indikasi yang kami dapatkan adalah kami masih dapat mengelola dividen, tetapi tentu saja kami masih akan menunggu keputusan akhir," jelas Pahala

(hns/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads