Market Overview
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (14/10) dengan kenaikan 0,29% ke posisi 5.943,02. Penguatan indeks antara lain ditopang saham BBCA yang naik 2,94%, BRPT sebesar 9,16%, dan ASII sebesar 1,26%.
Sejumlah saham justru berada di zona merah. VKTR tercatat turun 12,28%, disusul DSSA yang melemah 4,79% dan BREN turun 4,53%.
Aktivitas investor asing masih mencatatkan penjualan bersih. Di pasar reguler, nilai net sell asing mencapai Rp104,01 miliar, sementara jika dihitung di seluruh pasar mencapai Rp1,13 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari 11 sektor yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI), delapan sektor berhasil menguat. Sektor Technology menjadi yang mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 2,76%. Sebaliknya, Consumer Cyclical menjadi sektor dengan pelemahan terbesar, yakni 0,72%.
Pergerakan bursa Amerika Serikat (AS) juga cenderung melemah. Dow Jones turun tipis 0,09% ke level 51.621, sedangkan S&P 500 terkoreksi 1,11% ke 7.718 dan Nasdaq turun 1,88% ke 26.692.
Di dalam negeri, BBCA menjadi salah satu saham yang memberikan dorongan terbesar terhadap IHSG dengan kontribusi 15,94 poin. Transaksi saham tersebut juga mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp216,62 miliar. Sementara itu, ETF EIDO turun 0,34%, sedangkan MSCI Indonesia naik 1,30%.
Baca juga: IHSG Ditutup Menguat ke 5.943 |
Berita Emiten
PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL)
REAL memperluas bisnis propertinya melalui pembangunan kawasan hunian Grand Riscon Darmaga di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Proyek tersebut dijalankan melalui entitas anak terkendali REAL, yakni Repower Global Sinergitama (RGST).
Perusahaan telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama Operasi (KSO) dengan Ardias Bayu Pratama atau Riscon Group, sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah dibuat.
Grand Riscon Darmaga akan menyasar segmen Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sekaligus menyediakan unit komersial. Kerja sama ini menggunakan skema KSO non-badan hukum dengan pembagian laba bersih 57% untuk RGST dan 43% untuk Riscon Group. Perjanjian kerja sama tersebut berlaku selama dua tahun dan masih dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua pihak.
Bagi REAL, proyek ini juga akan masuk dalam laporan keuangan konsolidasian karena RGST merupakan entitas anak terkendali. Selain menambah proyek baru, pengembangan Grand Riscon Darmaga menjadi bagian dari langkah perseroan memperluas pasar ke segmen hunian MBR.
REAL sebelumnya menargetkan pertumbuhan penjualan minimal 20% pada 2026. Target tersebut akan didukung optimalisasi proyek yang sudah berjalan, termasuk Botanical Puri Asri di Depok, serta pengembangan proyek baru di kawasan Pasar Minggu dan Pondok Cabe.
PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART)
PART mulai memperluas kegiatan usahanya di luar komponen otomotif dengan masuk ke sektor pengelolaan sampah. Perseroan mengembangkan mesin rapid digester SOMYA bersama Enviro Mas Sejahtera.
Mesin tersebut dirancang untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos dalam waktu sekitar delapan jam. Pengembangan bisnis ini menyasar potensi pengelolaan sampah organik yang masih cukup besar.
Sisa makanan tercatat menjadi komponen terbesar dalam timbulan sampah di Indonesia, dengan porsi sekitar 40,77% dari total timbulan sekitar 29,2 juta ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 67,1% disebut belum terkelola. Pemerintah juga menargetkan pengelolaan sampah organik mencapai 100% pada 2029.
Di sisi pendanaan, PART menyiapkan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dengan nilai maksimal Rp200 miliar. Aksi tersebut ditargetkan berlangsung pada kuartal I 2027 dan akan digunakan untuk memperkuat modal kerja.
Selain itu, perseroan menyiapkan pembelian kembali saham atau buyback hingga 10% dari modal disetor dengan anggaran maksimal Rp10 miliar. Rencana PMHMETD dan buyback tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada awal Desember 2026.
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
IMPC juga memiliki agenda pembagian dividen. Perseroan menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp5 per saham.
Total dana yang disiapkan untuk pembagian dividen interim tersebut mencapai Rp273,43 miliar. Keputusan ini dilakukan setelah IMPC mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp446,50 miliar sepanjang semester I 2026.
Laba tersebut tumbuh 51,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun dividen interim yang ditetapkan setara dengan dividend payout ratio sebesar 61,24% dari laba bersih semester I 2026.
Pada perdagangan 14 Oktober 2026, saham IMPC ditutup di level Rp1.180 per saham. Dengan harga tersebut, dividen interim Rp5 per saham setara dengan dividend yield sekitar 0,42%.
Untuk jadwal pembagiannya, cum date dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 21 Oktober 2026. Sementara pembayaran dividen kepada pemegang saham dijadwalkan pada 30 Oktober 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
ENRG - Buy 920-930 | TP 945-965 | SL 880
AALI - Buy 8575-8625 | TP 8750-8900 | SL 8100
PANI - Buy 5000-5050 | TP 5200-5375 | SL 4760
BRPT - Buy 1415-1425 | TP 1450-1470 | SL 1345
ACES - Buy 336-340 | TP 346-350 | SL 320
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ang/ang)









































