Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam di perdagangan hari ini, Kamis (15/10/2026). Indeks saham jatuh bersama mayoritas bursa Asia lainnya.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG tercatat melemah 2,20% ke level 5.812,45 sekitar pukul 11.00 WIB. Di kawasan Asia Pasifik, Straits Times Index (STI) milik Singapura juga melemah 0,90% ke level 5.374,75.
Kemudian Shanghai Composite Index (SSEC) juga melemah 1,98% ke level 3.692,64. Sementara Hang Seng Index (HSI) melemah 1,47% di level 23.955,58. Kemudian indeks saham Jepang (Nikkei 225 Index/N225) melemah hingga 4,71% ke 64.555.
Pelemahan mayoritas bursa global dan Asia-Pasifik ini dipicu oleh data makroekonomi Amerika Serikat (AS) yang mencatat kenaikan angka inflasi di luar perkiraan pasar.
Baca juga: IHSG Anjlok 2% ke Level 5.800! |
"Koreksi ini (IHSG) juga sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang juga terkoreksi pasca-rilis data inflasi AS September 2026 yang bergerak menguat ke 3,7% YoY, yang masih cukup jauh dari target inflasi The Fed," ucap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).
Kondisi ini disebut membuat bank sentral AS bersikap hawkish atau menetapkan arah kebijakan moneter yang ketat. Di sisi lain, The Fed juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) satu kali lagi di tahun ini.
Herditya menilai, kenaikan suku bunga dan sikap hawkish The Fed akan meningkatkan imbal hasil US Treasury (UST). Imbasnya, negara-negara Emerging Market (EM) seperti Indonesia akan mengalami arus modal asing keluar.
"Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM," pungkasnya.
Sementara berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, terdapat beberapa sentimen utama penyebab rontoknya IHSG. Pertama imbas inflasi AS di atas ekspektasi, di mana Consumer Price Index (CPI) September naik melampaui konsensus menjadi 3,7% YoY dengan inflasi inti mencapai 2,6%.
Kondisi ini disebut akan memperkuat posisi dolar AS dan berpotensi menekan rupiah. Hal ini juga meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.
Kemudian eskalasi konflik Timur Tengah yang kian memanas setelah adanya ancaman dari Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Ancaman ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak yang memperbesar ketidakpastian pasar global.
Kemudian di China, tercatat surplus dagang bulan September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi permintaan komoditas Indonesia meski dampak terhadap IHSG tertahan oleh sentimen global yang negatif.
(acd/acd)