IHSG Anjlok Usai Pengumuman MSCI, Wamenko Perekonomian: Investor Gampang Panik

IHSG Anjlok Usai Pengumuman MSCI, Wamenko Perekonomian: Investor Gampang Panik

Andi Hidayat - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2026 14:49 WIB
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo
Foto: Andi Hidayat
Jakarta -

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, meminta investor domestik untuk melakukan perhitungan investasi secara mandiri. Hal ini dianggap penting untuk menghindari kerugian imbas pengumuman dari lembaga penyedia indeks global seperti MSCI.

Diketahui, pengumuman MSCI memuat opsi pemangkasan status pasar modal RI dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pengumuman tersebut memicu aksi jual asing di pasar modal RI dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat (16/10/2026)

"Kalau kita sudah bisa melakukan hitungan sendiri, Insyaallah kita tidak akan gampang panik ketika ada pengumuman-pengumuman seperti ini. Jadi apa yang terjadi sekarang ini adalah karena investor domestik terlalu gampang panik karena mungkin belum pede untuk berhitung sendiri," ungkap Dradjad kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dradjad menjelaskan, sebuah analisis di Jerman menemukan adanya ketimpangan pergerakan saham bursa domestik dengan saham-saham di MSCI. Temuan tersebut terjadi pada 2025, di mana saham-saham dalam indeks Deutscher Aktien Index (DAX) menguat, tetapi saham-saham Jerman di MSCI melemah.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa MSCI tidak selalu bisa dibenarkan. Selain itu, pengumuman MSCI juga dianggap tidak selalu menguntungkan bagi investor.

"Ketika DAX ya, bursa Jerman itu naik tinggi, MSCI world, yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor," jelasnya.

Dradjad juga menyebut imbal hasil dana kelolaan MSCI masih lebih rendah dibandingkan lembaga penyedia investasi lainnya. Selain itu, sekitar 70% saham dalam indeks MSCI berasal dari Amerika Serikat (AS), 30% sisanya merupakan saham-saham teknologi.

Dradjad menerangkan, sejumlah emiten consumer berpotensi menguat. Hal tersebut ia tegaskan mengingat pertumbuhan emiten consumer yang menyentuh 5,9%. Hal tersebut dianggap mencerminkan terjaganya daya beli.

"Pesan saya sekarang adalah bahwa tolong teman-teman para investor maupun para pelaku pasar modal, para broker di Indonesia. Cobalah, kalian bisa lebih independen. Perkuat analisis kalian, perkuat model-model kalian. Saya tahu banyak jago-jago matematika kok di Indonesia," pungkasnya.

Saksikan Live DetikSore:

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads