MSCI Ungkap Kondisi Pasar Modal RI: Kapitalisasi Anjlok 55%-Bobot Saham 0,43%

MSCI Ungkap Kondisi Pasar Modal RI: Kapitalisasi Anjlok 55%-Bobot Saham 0,43%

Andi Hidayat - detikFinance
Minggu, 18 Okt 2026 10:31 WIB
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah  254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkut
Foto: ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN
Jakarta -

Pasar modal Indonesia terancam turun status dari Emerging Market menjadi Standalone Market dalam indeks saham MSCI. Berdasarkan proposal konsultasi MSCI terkait potensi penurunan status pasar Indonesia, diketahui kapitalisasi pasar Indonesia terus mengalami penurunan.

Sejak Januari hingga 30 September 2026, MSCI mencatat kapitalisasi pasar Indonesia dalam indeks MSCI anjlok dari US$ 53,35 miliar dari sebelumnya US$ 119,14 miliar. Angka tersebut tercatat hingga 55% sepanjang Januari hingga September 2026.

"Sejak 1 Januari 2026, kapitalisasi pasar indeks total telah turun 55%," tulis proposal konsultasi MSCI, dikutip Minggu (18/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, bobot saham RI di MSCI juga mengalami penyusutan signifikan sepanjang periode tersebut, yakni dari 1,16% menjadi 0,43%. Sementara jumlah konstituen saham Indonesia juga turun dari 18 menjadi sembilan hingga akhir September 2026.

ADVERTISEMENT

"Bobotnya dalam Indeks MSCI Emerging Markets (EM) telah turun dari 1,16% menjadi 0,43%," terang proposal tersebut.

Adapun rincian bobot sektor untuk Indeks MSCI Indonesi adalah layanan komunikasi 10,70%, industri 7,81%, bahan baku 6,34%, energi 3,44%, dan keuangan 71.71%.

Sebagai informasi, MSCI pada Jumat (16/10) mengumumkan opsi untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Hal tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.

Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini terjadi karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.

"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16/10/2026).

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads