OJK & BEI Kumpulkan AB-Analis Usai IHSG Rontok Imbas Pengumuman MSCI

OJK & BEI Kumpulkan AB-Analis Usai IHSG Rontok Imbas Pengumuman MSCI

Andi Hidayat - detikFinance
Minggu, 18 Okt 2026 17:43 WIB
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah  254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkut
Foto: ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumpulkan analis dan anggota bursa (AB) hari ini, Minggu (18/10/2026). Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI).

Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat, mengatakan pertemuan tersebut membahas tentang kondisi pasar modal Indonesia setelah pengumuman MSCI. Self-Regulatory Organization (SRO) juga menerima banyak masuk dari para pelaku pasar.

"Bursa ngundang analis segala macam, MI (manajer investasi) juga ada, jelasin tentang sekarang kondisi ini," ungkap Samsul saat ditemui wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Minggu (18/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi masukan-masukan dan cerita sekarang kondisinya gimana, dan ya mungkin, ya konstruktif juga masukan-masukannya," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Namun Samsul tak menyebut pasti berapa banyak analis dan AB yang diundang dalam pertemuan hari ini. Pasalnya KSEI dalam hal ini menjadi pihak yang diundang BEI.

Sementara itu, PAEI juga membenarkan adanya pertemuan dengan OJK dan BEI. Usai pertemuan tersebut, PAEI menegaskan sikapnya terkait kondisi pasar modal saat ini.

Pertama, PAEI mendukung penuh agenda reformasi OJK dan SRO. Reformasi tersebut diketahui dijalankan dengan berbagai kebijakan, yakni keterbukaan kepemilikan saham di atas 1%, klasifikasi 39 kategori investor, transparansi UBO, perluasan cakupan high shareholding concentration (HSC), kenaikan minimum free float jadi 15%, penyempurnaan Watchlist Board, short selling, serta publikasi haircut dan collateral.

"PAEI mencermati konsultasi MSCI yang berlangsung hingga 30 April 2027 dan siap menyampaikan masukan secara konstruktif. Konsultasi ini adalah ruang bagi Indonesia untuk menunjukkan bukti hasil reformasi," jelas PAEI dalam keterangannya.

Kedua, PAEI mendukung dan meminta regulator konsistensi untuk melakukan penindakan praktik coordinated trading. BEI dianggap telah memperluas pengawasan perdagangan saham dengan memantau tidak hanya volatilitas harga, tetapi juga pola transaksi dan price impact ratio.

OJK sendiri telah menjatuhkan sanksi administratif sekitar Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait DSSA, BREN, dan CUAN atas manipulasi perdagangan dan penjatahan saham IPO yang tidak transparan, serta tengah mendalami indikasi awal pada 31 dari 61 saham HSC.

Namun begitu, PAEI mendorong agar hasil penegakan hukum dipublikasikan secara berkala dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kemudian dilakukan analisis keterkaitan antar-akun dan antar-broker berbasis SID dan UBO terus diperkuat.

PAEI juga meminta transparansi penjatahan saham IPO ditingkatkan. Selanjutnya PAEI meminta proses dari indikasi hingga putusan dipercepat dengan tetap menjaga due process.

Ketiga, PAEI meminta pengembangan HSC menjadi Investability Adjustment Factor yang berbasis aturan, menggunakan data terpublikasi mencakup actual tradable float, konsentrasi kepemilikan, dan likuiditas, yang diterapkan bertahap dan disertai penyesuaian divisor.

Adapun hingga 13 Oktober 2026, diketahui terdapat 80 saham dalam daftar HSC. Pada September 2026, ada sebanyak 63 saham HSC mewakili sekitar 28,8% kapitalisasi pasar, namun hanya sekitar 5% dari nilai transaksi.

Keempat, PAEI mendorong recovery roadmap terbuka yang memuat fokus utama, action plan, penanggung jawab, timeline, dan indikator outcome terukur. Hal ini dinilai penting lantaran saat ini tantangan bukan lagi soal kekurangan aturan, melainkan pembuktian implementasi dan dampaknya.

"Contohnya tren konsentrasi kepemilikan, free float efektif, dan jumlah kasus yang dituntaskan. Peningkatan kualitas information flow, termasuk keterbukaan informasi dalam bahasa Inggris, perlu menjadi bagian dari roadmap tersebut," jelas PAEI.

Kelima, PAEI mendorong pemulihan kepercayaan investor. PAEI menegaskan, Isu integritas pasar perlu dibedakan dari kualitas fundamental emiten.

Pasalnya secara fundamental hingga Juni 2026, pendapatan emiten tumbuh sekitar 15,9% dengan laba bersih sekitar 16,3%. Ada sekitar 74% emiten membukukan laba bersih sepanjang semester I-2026.

Sementara valuasi pasar berada di kisaran 9,4 kali P/E hingga 9 Oktober 2026. Adapun basis investor saham saat ini mencapai 31,1 juta SID.

"Fondasi ini akan optimal apabila didukung transparansi, likuiditas, investability, dan enforcement yang kredibel dalam satu agenda reformasi yang konsisten. Benchmark perlu diperbaiki, tetapi underlying market juga harus diperbaiki," pungkasnya.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads