Bos BEI Ungkap Alasan RI Layak Bertahan di Emerging Market

Bos BEI Ungkap Alasan RI Layak Bertahan di Emerging Market

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 20 Okt 2026 06:55 WIB
IHSG anjlok 11,57% ke level 5.185,11 pada Jumat (16/10/2026), di tengah konsultasi publik MSCI terkait rencana reklasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market.
Ilustrasi.Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan Indonesia masih layak menyandang status Emerging Market. Pernyataan ini disampaikan menyusul pengumuman MSCI mengenai opsi penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market.

Sejumlah pihak juga disebut memandang Indonesia masih memenuhi kriteria Emerging Market. Dalam berbagai diskusi, investor global bahkan turut menilai pasar modal Indonesia masih layak berada dalam kategori tersebut.

"Kalau Indonesia layak di Emerging, rasanya itu bukan pendapat kami saja. Bahkan para partisipan, para investor global yang berdiskusi dengan kami semua sepakat, bahwa Indonesia memenuhi seluruh kriteria untuk berada di Emerging Market," tegas Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (19/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jeffrey mengatakan MSCI dalam catatannya juga memuat sejumlah kriteria Emerging Market yang telah dipenuhi Indonesia. Bahkan Jeffrey mengklaim Indonesia lebih baik dibanding negara-negara di Emerging Market lainnya.

"Di lampiran yang disampaikan oleh MSCI sendiri, di situ banyak sekali poin-poinnya dan bisa dilihat Indonesia memenuhi. Bahkan dalam beberapa poin, Indonesia lebih baik dari negara Emerging Market lain," terang Jeffrey.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan laporan BEI terkait perbedaan Emerging dan Standalone, Indonesia ditegaskan layak untuk tetap bertahan pada status saat ini.

Aspek negara masuk klasifikasi Standalone sendiri diantaranya; kontrol modal, repatriasi dilarang; dolar langka, valas macet; bursa tutup, perang/sanksi; dan pasar tidak bisa diakses.

Sementara Indonesia tidak memiliki kriteria tersebut yakni arus modal bebas keluar-masuk; valuta asing dengan cadangan devisa US$ 146,3 miliar; bursa dan geopolitik normal, likuid, tanpa sanksi; serta tengah meningkatkan kualitas data sebagaimana yang diminta MSCI.

"Karakter Indonesia = EM (Emerging Market). Standalone untuk pasar uninvestable. Indonesia: kapitalisasi US$ 498 miliar, inflasi 3,28%, 9 saham di MSCI Standard Index," tulis laporan tersebut.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads