Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan usai pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan untuk menurunkan status dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan penilaian pasar modal Indonesia tidak hanya bergantung pada satu lembaga pemeringkat saja.
"Tentu MSCI kan itu salah satu rating, tetapi bukan satu-satunya. Jadi, kita ada rating yang lain, apakah itu FTSE, ada Russell dan yang lain yang tentu hasilnya berbeda," ujar Airlangga di Gedung AA Maramis, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).
Airlangga optimistis perbaikan tata kelola yang saat ini disiapkan oleh otoritas tak membuat pasar modal Indonesia turun kasta. Di sisi lain, ia menilai Indonesia tidak bergantung pada satu lembaga pemeringkat saja.
"Kita sih, confident saja dengan tata kelola yang sedang disiapkan dan Indonesia tidak tergantung hanya pada satu rating agency," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, MSCI mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market akibat kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Rencana penurunan tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar dan keputusan final akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
Pengumuman tersebut langsung membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur pada perdagangan Jumat (16/10). IHSG ditutup anjlok 678,67 poin atau 11,57% ke level 5.185 di tengah sorotan terhadap rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar modal Indonesia.
Simak juga Video: Lihat Lagi Alasan MSCI Buka Peluang Turunkan Kasta Pasar Saham RI










































