DMAS Bagi Dividen Rp1,4 Triliun, IPCC Catat Trafik Kargo Naik 19%

DMAS Bagi Dividen Rp1,4 Triliun, IPCC Catat Trafik Kargo Naik 19%

- detikFinance
Kamis, 22 Okt 2026 08:45 WIB
img-alt

Mega Capital Sekuritas

PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, hadir sejak 1991 dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli terpercaya.
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam
Jakarta -

Market Overview

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (21/10) di zona hijau. IHSG naik 0,94% ke level 5.328,36.

Sejumlah saham menjadi penopang penguatan indeks. BBCA naik 1,44%, BREN melonjak 8%, sementara TLKM menguat 2,91%. Di sisi lain, MORA turun 6,19%, EMAS melemah 5,47%, dan ENRG terkoreksi 6,36%.

Investor asing masih mencatatkan penjualan bersih. Di pasar reguler, net sell asing mencapai Rp527,80 miliar, sedangkan jika dihitung di seluruh pasar tercatat Rp70,71 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari 11 sektor saham, sebanyak 9 sektor berakhir menguat. Sektor Health menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 3,35%. Sementara sektor Technology menjadi yang paling tertekan setelah turun 1,12%.

Pergerakan positif juga terjadi di bursa saham Amerika Serikat. Dow Jones naik 0,69% ke 52.856, S&P 500 menguat 0,58% ke 7.757, dan Nasdaq bertambah 1,05% ke 26.702.

ADVERTISEMENT

Penguatan IHSG antara lain ditopang pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA dan BBRI serta TLKM. Sentimen terkait aksi buyback turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Sementara itu, BNGA disorot menyusul kabar mengenai potensi delisting oleh CIMB Group yang memunculkan spekulasi mengenai aksi korporasi.

Di pasar global, ETF EIDO yang merepresentasikan saham Indonesia di AS naik 2,23%. Indeks MSCI Indonesia juga menguat 1,26%.

Berita Emiten

1. PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC)

IPCC mencatat kenaikan trafik kargo konsolidasi hingga September 2026. Volumenya mencapai 1,37 juta unit, naik 19,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan trafik tersebut berjalan seiring dengan bertambahnya kunjungan kapal. Hingga 9M26, jumlah kunjungan kapal mencapai 2.958 atau tumbuh 14,87% secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut turut didukung penguatan jaringan terminal satelit, terutama di Banjarmasin dan Makassar.

Namun, kenaikan volume IPCC lebih banyak berasal dari segmen dengan tarif lebih rendah. Trafik truk dan bus tumbuh 43,98%, sedangkan kendaraan roda dua naik 51,46%.

Berbeda dengan itu, trafik kendaraan utuh atau completely built-up (CBU) yang memiliki nilai tarif lebih tinggi hanya tumbuh tipis 0,95% secara tahunan.

Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja keuangan IPCC. Pada semester I 2026, pendapatan perseroan turun 0,49% menjadi Rp413,50 miliar. Laba bersih juga turun 9,28% menjadi Rp103,28 miliar.

Kenaikan volume belum sepenuhnya mendorong pendapatan karena tambahan trafik lebih banyak berasal dari kargo dengan tarif lebih rendah. Sementara itu, segmen CBU relatif tidak banyak berubah dan biaya ekspansi jaringan terminal satelit turut memberikan tekanan terhadap margin.

2. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)

PGEO menyiapkan ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi yang dikelola langsung. Perseroan menargetkan kapasitas mencapai 1,8 GW pada 2034, dari posisi saat ini 727 MW.

Sebelum mencapai target tersebut, PGEO membidik kapasitas 1 GW pada 2028. Untuk menambah sekitar 1.073 MW, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai US$6,43 miliar atau sekitar Rp115,92 triliun.

Biaya pengembangan diperkirakan berada di kisaran US5juta-US6 juta untuk setiap MW kapasitas tambahan.

Pendanaan ekspansi akan berasal dari beberapa sumber, mulai dari modal internal dan sisa dana hasil IPO, hingga fasilitas green financing dan green bond. Perseroan juga menyiapkan skema joint venture bersama PLN untuk membagi risiko serta porsi investasi.

Beberapa proyek yang masuk dalam rencana tersebut antara lain pemanfaatan air panas berkapasitas 30 MW di Ulubelu dan PLTP Lumut Balai Unit 3. PLTP Lumut Balai Unit 3 ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2029.

3. PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)

DMAS akan membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp29 per saham. Total dividen yang disiapkan mencapai Rp1,40 triliun.

Pembagian dividen tersebut sejalan dengan kinerja perseroan hingga September 2026. DMAS mencatat laba bersih Rp1,49 triliun pada 9M26, tumbuh 183,81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan jumlah tersebut, dividen interim Rp29 per saham setara dengan dividend payout ratio sebesar 93,81% dari laba bersih 9M26.

Sementara itu, saham DMAS pada perdagangan Rabu (21/10) ditutup di level Rp208 per saham. Dengan harga tersebut, dividen interim Rp29 per saham mencerminkan dividend yield sebesar 13,94%.

Untuk jadwalnya, cum date dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 28 Oktober 2026. Adapun pembayaran dividen akan dilakukan pada 13 November 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

  • SGER - Buy 745-755 | TP 765-775 | SL 700

  • AKRA - Buy 1280-1295 | TP 1310-1335 | SL 1225

  • ERAA - Buy 555-570 | TP 585-590 | SL 535

  • DOOH - Buy 250-256 | TP 260-268 | SL 238

  • TOWR - Buy 400-406 | TP 410-418 | SL 382

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

(ang/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads