PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan penjualan sebesar Rp 25,8 triliun sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada kuartal III 2026 saja, penjualan Unilever Indonesia mencapai Rp 8,9 triliun atau meningkat 7,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan volume dasar sebesar 6,4%.
Selain penjualan, laba bersih dari operasi berkelanjutan Perseroan juga tumbuh 10,6% sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pertumbuhan laba tersebut melampaui kenaikan penjualan meskipun perusahaan masih menghadapi tekanan inflasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unilever Indonesia menyebut kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan di berbagai unit bisnis dan saluran penjualan, peningkatan daya saing, serta penguatan eksekusi strategi. Perseroan juga melanjutkan investasi pada sejumlah prioritas untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan perusahaan mencatatkan pertumbuhan volume selama lima kuartal berturut-turut. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan penguatan daya saing dan merek-merek perusahaan.
"Kinerja kuartal ketiga kami menunjukkan kemajuan berkelanjutan dalam membangun bisnis yang lebih kuat. Kami mencatat pertumbuhan volume selama lima kuartal berturut-turut, dengan pertumbuhan laba yang melampaui pertumbuhan penjualan meskipun tekanan inflasi masih berlanjut. Pertumbuhan ini terjadi secara merata di seluruh portofolio kami dan mencerminkan peningkatan daya saing, eksekusi yang semakin kuat, serta penguatan merek-merek kami," ujar Benjie dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2026).
Fokus Perkuat Merek dan Bisnis Digital
Di tengah pertumbuhan tersebut, Unilever Indonesia melanjutkan transformasi bisnis untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan. Perusahaan menetapkan tiga prioritas utama, yakni memperkuat merek, meningkatkan porsi produk premium, dan mengembangkan bisnis digital.
Pada aspek penguatan merek, Unilever menerapkan kerangka S.A.S.S.Y. yang mencakup sains (Science), estetika (Aesthetics), pengalaman sensoris (Sensorial Experiences), advokasi konsumen (Consumer Advocacy), serta relevansi dengan generasi muda (Youthful Relevance).
Perseroan menyebut Sunsilk dan Rinso sebagai contoh merek yang dikembangkan melalui penguatan keunggulan produk, daya tarik merek, dan relevansi budaya.
Unilever Indonesia juga melihat peluang dari segmen premium. Segmen ini mencakup sekitar 32% dari total pasar dan tumbuh hampir dua kali lebih cepat dibandingkan segmen utama (mainstream). Perusahaan menyebut lebih dari 70% bisnis premiumnya mencatatkan kinerja yang lebih unggul dibandingkan pasar masing-masing.
Sementara itu, pengembangan bisnis digital dilakukan melalui pemasaran berbasis media sosial, aktivitas live streaming, dan kemitraan afiliasi. Strategi tersebut ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus memperkuat hubungan dengan konsumen di berbagai kanal digital.
Dari sisi operasional, perusahaan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas melalui transformasi pengadaan, manufaktur, dan model operasional. Perseroan juga memperluas distribusi langsung, memperkaya portofolio produk, serta meningkatkan layanan pelanggan dan kualitas eksekusi di toko.
Unilever Indonesia menyatakan lebih dari 60% belanja modal dialokasikan untuk peningkatan produktivitas dan perluasan kapasitas.
Antisipasi Tekanan Inflasi hingga 2027
Benjie mengatakan perusahaan akan tetap berfokus pada pertumbuhan yang didorong oleh volume, disertai peningkatan margin secara terukur pada 2026.
"Ke depan, kami akan tetap berfokus pada pertumbuhan yang didorong oleh volume, dengan peningkatan margin yang terukur pada 2026. Meskipun tekanan inflasi pada komoditas yang berkaitan dengan kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan berlanjut hingga memasuki 2027, kami akan terus meresponsnya melalui kombinasi penyesuaian harga yang tepat, efisiensi, dan investasi yang disiplin. Prioritas kami adalah menjaga daya saing, memastikan produk tetap terjangkau bagi konsumen, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dalam jangka panjang. Kami optimistis dengan kemajuan yang terus kami capai," ungkapnya.
"Saat ini, kami memiliki merek, kapabilitas, dan fondasi bisnis yang lebih kuat dibandingkan satu tahun yang lalu. Kami akan terus berfokus pada penguatan portofolio, peningkatan daya saing, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham dalam jangka panjang. Sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat bisnis, kami akan menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai bisnis Foods sebelum akhir tahun," tutup Benjie.
Lihat juga Video: Apresiasi Penerapan Bisnis Berkelanjutan Dalam Inisiatif ED&I Untuk Unilever Indonesia
