Airlangga soal Sentimen MSCI: Bukan Kaitannya Fundamental Ekonomi, tapi...

Airlangga soal Sentimen MSCI: Bukan Kaitannya Fundamental Ekonomi, tapi...

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 13:46 WIB
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memaparkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) triwulan-1 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mampu tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy).
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto/Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sentimen dari lembaga pemeringkat global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Airlangga mengatakan saat ini reformasi pasar modal Indonesia telah diterima dan akan diimplementasikan. Di sisi lain, jika dilihat dari fundamental dari emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah membaik, baik dari segi keuntungan serta pembagian dividen. Saat ini, Airlangga menyebut tinggal memantau implementasi aturan terkait free float 15%.

"Tinggal bagaimana implementasi dari free float yang 15% itu kan masih ada beberapa perusahaan yang belum free float, dan kemudian mana yang masuk ke dalam apa namanya, saham yang masuk dalam weighting daripada MSCI," ujar Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Airlangga menekankan sentimen MSCI bukan berkaitan dengan fundamental ekonomi maupun emiten di BEI. Oleh karena itu, persoalan yang sedang disorot bukanlah masalah fundamental perusahaan, melainkan hal teknis terkait aturan pasar.

ADVERTISEMENT

"Tetapi bagi Indonesia, yang penting ini bukan kaitannya dengan fundamental ekonomi, bukan juga dengan fundamental emiten, tetapi lebih kepada governance daripada trading market khusus untuk saham yang free float," beber Airlangga.

Menanggapi potensi risiko atau efek domino, pemerintah memastikan risiko tersebut dapat dimitigasi dengan baik. Pasalnya, MSCI bukan satu-satunya lembaga pemeringkat global di pasar keuangan internasional.

"Risiko tentu bisa dimitigasi karena ini kan kalau misalnya MSCI tidak merekomendasikan saham kita untuk dibeli oleh investor Amerika atau dari Eropa atau dari Asia, tetapi kan ada S&P, ada yang lain yang bisa merekomendasikan dan di masing-masing capital market itu ada," beber Airlangga.

Untuk itu, Airlangga menyebut masyarakat tidak perlu merasa khawatir, terlebih pergerakan pasar modal dalam beberapa hari terakhir terpantau menguat.

"Jadi, kita tidak perlu khawatir, apalagi dalam tiga hari terakhir kan pasar modal berada dalam jalur hijau, dan kedua, yang invest dalam jalur hijau ini return-nya jelas dari dividen yang dibayar oleh masing-masing emiten," imbuhnya.

(rea/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads