Harga Emas Dunia Anjlok, Pekan Depan Diramal Makin Tertekan

Harga Emas Dunia Anjlok, Pekan Depan Diramal Makin Tertekan

Andi Hidayat - detikFinance
Sabtu, 24 Okt 2026 13:00 WIB
Ilustrasi Emas Batangan
Foto: Scottsdale Mint/Unsplash
Jakarta -

Harga emas dunia diprediksi akan melanjutkan tren pelemahan di perdagangan pekan depan. Kondisi ini terjadi imbas kenaikan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dalam pertemuan Federal Reserve (The Fed) minggu depan.

Dikutip dari Reuters, harga emas turun ke level terendah dalam tiga bulan pada Jumat (23/10). Harga emas spot melemah 0,6% menjadi US$ 3.998,35 per ons pada pukul 11.20 EDT (15.20 GMT).

Penurunan ini membuat harga emas kembali berada di bawah level US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli. Harga emas bahkan sempat menyentuh level terendah sesi di US$ 3.975,23 per ons.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepanjang pekan ini, harga emas spot tercatat turun 4%. Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 1,3% lebih rendah pada US$ 4.007,90 per ons.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi sejak lima bulan terakhir menyusul serangan Houthi di Arab Saudi yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi lanjutan.

ADVERTISEMENT

"Meningkatnya kekhawatiran inflasi menunjukkan bahwa bank sentral utama dunia tidak akan mampu melonggarkan kebijakan moneter secepat yang mereka inginkan. Semua itu saat ini merugikan para pelaku pasar emas dan perak," kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/10/2026).

Wyckoff mengatakan, penurunan tajam saham teknologi memicu margin call bagi pedagang dan investor saham. Kondisi ini mendorong investor menjual aset emas dan perak untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga menyentuh level terendah dalam lima minggu pada Jumat (23/10). Sentimen pasar tertekan oleh aksi jual tajam saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Di sisi lain, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Namun, data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis pekan lalu melampaui perkiraan yang memperkuat ekspektasi potensi kebijakan moneter lebih ketat hingga akhir tahun ini.

Sementara berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pekan depan mencapai 92%. Selain itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sebesar 78%.

Laporan belanja konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS yang menjadi acuan inflasi pilihan The Fed dan dijadwalkan rilis pada 29 Oktober akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS tersebut.

Di sisi lain, pembelian emas di India meningkat pekan ini. Harga yang lebih rendah selama festival Dussehra mendorong permintaan dan menaikkan premi emas. Sementara itu, permintaan emas fisik di China, sebagai salah satu konsumen utama, relatif stabil.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1% menjadi US$ 53,97 per ons. Harga paladium melemah 0,5% ke US$ 1.048,31 per ons, sekaligus menyentuh level terendah sejak Juni 2025. Adapun platinum turun 0,9% menjadi US$ 1.555,84 per ons, level terendah sejak Juli.

Ketiga logam tersebut diperkirakan mencatatkan penurunan secara mingguan.

(ahi/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads