Wall Street pada perdagangan Jumat (28/12/2007) ditutup tanpa mengikuti tradisi yang biasanya menguat pada hari-hari terakhir penutupan perdagangan di penghujung tahun.
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,63% ke level 13.365,87. Sementara Nasdaq melemah 0,65% ke level 2.674,46 poin, Standard & poor's turun 0,4% ke level 1.478,49 poin.
Sementara obligasi justru menarik investor karena dianggap sebagai investasi yang lebih aman. Imbal hasil atau yield obligasi bertenor 10 tahun turun menjadi 4,096% dari 4,168%. Sementara yang bertenor 30 tahun yieldnya juga turun menjadi 4,514% dari 4,575%. Sebagai informasi, harga dan yield obligasi bergerak berlawanan.
Wall Street menutup tahun dengan muram, meski di awal tahun sempat diwarnai keceriaan hingga menembus level psikologis 14.000. Rekor tertinggi dicatat indeks Dow Jones pada 9 Oktober saat mencapai level 14.164,53. Namun krisis subprime mortgage di AS yang merebak ke seluruh dunia ikut menggerogoti kinerja bursa acuan dunia itu.
Seperti dikutip dari AFP, Sabtu (29/12/2007), indeks Dow Jones tercatat hanya naik 7,24%. Nasdaq naik 10,73% dan S&P 500 naik 4,24% selama tahun 2007. Khusus untuk Nasdaq mencatat penguatan yang cukup signifikan ditopang oleh saham-saham teknologi unggulan seperti Google dan Amazon.
Namun capaian itu sangat kontras misalnya dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tumbuh lebih dari 50%.Β Kinerja IHSG terbaik kedua se-Asia Pasifik setelah bursa China.
Faktor lain yang ikut menyandung pergerakan bursa utama dunia itu adalah kenaikan harga minyak dunia yang pada penghujung 2007 kembali ditutup nyaris mendekati level US$ 100 per barel.
"Dengan mempertimbangkan kenaikan harga minyak hingga 40 dolar mendekati US$ 100 per barel dan krisis kredit, pasar tidak berjalan dengan baik karena kita harus berhadapan dengan semua masalah itu," ujar Marc Pado, analis dari Cantor Fitzgerald.
Untuk perdagangan saham di awal tahun 2008 pun bersiap 'memerah' karena investor sedang siaga satu menunggu keluarnya sejumlah data penting, salah satunya adalah data pengangguran bulanan dan juga catatan dari pertemuan Federal Reserve yang terakhir.
"Laporan data pekerja selama Desember akan menjadi data kunci pada pekan depan dan kami memperkirakan akan memperlambat pertumbuhan," ujar Brian Bethune dan Nigel Gault, ekonom dari Global Insight.
"Setelah kita memasuki tahun 2008, maka kemungkinan resesi akan menjadi kekhawatiran terbesar setiap orang," tambah Al Goldman, chief strategist AG Edwards.
Sementara Pado menambahkan, apa yang terjadi pada awal perdagangan 2008 akan menjadi cermin bagi pergerakan lantai bursa selama kuartal I-2008.
(qom/qom)











































