Rupiah Loyo BI Jangan Diam Saja

Rupiah Loyo BI Jangan Diam Saja

- detikFinance
Kamis, 03 Jan 2008 14:40 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) harus segera bertindak mengintervensi pasar karena posisi rupiah saat ini yang kian melemah terhadap dolar AS.

Rupiah kini menembus level 9.045-9.415 per dolar AS karena sentimen negatif tingginya harga minyak dunia yang sempat menyentuh level US$ 100 per barel.

BI diminta melakukan tindakan nyata untuk penyelamatan rupiah bukan sekedar no action talk only (NATO).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian dikatakan pengamat valuta asing Farial Anwar dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Kamis (3/1/2008).

"Harusnya BI intervensi dari dulu, bukan hanya dengan statement itu kan cuma NATO. BI punya cadangan devisa terbesar sepanjang sejarah jadi tidak masalah melakukan pengendalian pasar dengan jual dolarnya," ungkapnya.

Menurut Farial yang terjadi selama ini BI cenderung membiarkan penurunan nilai rupiah, karena sebenarnya BI juga merengguk keuntungan dari melemahnya rupiah terhadap dolar karena BI mendapat bunga dalam bentuk dolar dari pembelian surat utang AS. Bunga dalam dolar ini menurut Farial, digunakan BI untuk membayar bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

"BI itu harus secepatnya bertindak, kalau bisa saat ini juga, apa mau nunggu rupiah Rp 10 ribu per dolar AS. Heran saya apa saja sih kerjanya BI," keluhnya.

Menurutnya, BI selalu lebih suka dengan kisaran rupiah yang terendah dengan alasan untuk mendukung ekspor. Padahal ekspor terbesar saat ini dalam bentuk komoditi. Artinya, tanpa pelemahan rupiah pun eksportir, menurut Farial telah mendapat keuntungan karena harga komoditinya sudah tinggi.

Selain itu, langkah efektif pengendalian pasar yang perlu dilakukan BI adalah melakukan supervisi dalam dealing room penjualan valas di bank umum dan swasta. Sehingga bisa ketauan jual beli dolar ditujukan untuk apa dan hal ini juga untuk mencegah ulah spekulan valas.

Farial menegaskan, jika tidak ada intervensi terhadap pelemahan rupiah bisa memicu panic buying karena orang ketakutan rupiahnya depresiasi. APBN juga bisa jebol karena anggaran untuk membeli barang impor seperti minyak membutuhkan rupiah lebih banyak.

(arn/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads