Harga minyak yang tinggi yang sempat di atas US$ 100 per barel membuat ekonomi global ketar-ketir dan menjadi sentimen negatif pergerakan rupiah.
Meski punya kesempatan menguat karena dolar sedang melemah terhadap euro tetap saja rupiah tidak berkutik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka itu Farial meminta Bank Indonesia (BI) harus segera bertindak mengintervensi pasar karena posisi rupiah saat ini yang kian melemah terhadap dolar AS.
Pada perdagangan valas pukul 08.45 WIB, Jumat (4/1/2007) rupiah ada di level 9.415 per dolar AS dan ditransaksikan dikisaran 9.413-9.418 per dolar AS.
Sementara mata uang dolar AS kembali turun terhadap euro. Mata uang tunggal Eropa itu naik menjadi US$ 1,4746/US$ dibanding hari sebelumnya 1,4721/US$. Dolar juga turun terhadap yen di posisi 109,30 dibanding hari sebelumnya 109,59 yen.
Investor di AS khawatir terhadap ekonomi negaranya yang ditakutkan menuju resesi. Apalagi data pertambahan tenaga kerja di bulan Desember 2007 juga cuma naik 40.000 pekerja dibanding November 173 ribu. Padahal pasar berharap ada pertumbuhan 45 ribu tenaga kerja.
(ir/ir)











































